JAMBI — Ketua Umum Aismoli Budi Setiyadi menyebutkan kenaikan harga Pertamax sebesar 37 persen menjadi Rp16.250 per liter berdampak langsung pada pengeluaran harian masyarakat. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS memastikan beban subsidi APBN kian berat karena setiap liter BBM impor semakin mahal dalam denominasi rupiah.
“Kondisi ini menciptakan peluang sebagai momentum paling tepat untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik secara masif di Indonesia,” kata Budi dalam pernyataan yang dikutip dari Antara.
Efisiensi Biaya Jadi Daya Tarik Utama Beralih ke Motor Listrik
Menurut Budi, setiap unit motor listrik yang dikirim ke konsumen pada dasarnya menggantikan kendaraan berbahan bakar minyak. Artinya, semakin banyak motor listrik terjual, semakin besar potensi pengurangan impor BBM yang selama ini membebani anggaran negara.
Ia menambahkan, pemerintah perlu mengalihkan anggaran impor bahan bakar menjadi insentif fiskal untuk kendaraan listrik. Langkah ini dinilai krusial agar harga motor listrik bisa lebih terjangkau sehingga masyarakat tertarik beralih.
“Dalam situasi inilah kami siap mendukung komitmen pemerintah dalam mendorong transisi kendaraan listrik,” ujar Budi.
Survei Menunjukkan 98 Persen Responden Dukung Kendaraan Listrik
Aismoli juga mengutip hasil survei di lima kota besar — Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, dan Makassar — yang menunjukkan 98 persen responden menyatakan mendukung penggunaan kendaraan listrik. Budi menegaskan masyarakat Indonesia sudah siap dan memahami manfaat kendaraan listrik.
“Masyarakat Indonesia sudah siap, memahami manfaatnya, dan menantikan percepatan transisi energi di bidang transportasi,” tuturnya.
Meski demikian, harga motor listrik yang masih relatif tinggi menjadi hambatan utama. Aismoli mendorong konsistensi kebijakan pemerintah agar ekosistem kendaraan listrik nasional bisa tumbuh di atas fondasi yang dapat diprediksi oleh pelaku industri dan konsumen.