JAMBI — Penugasan ini bukan barang baru bagi Bulog. Pada era Orde Baru, kedelai bersama beras pernah menjadi komoditas yang dikelola lembaga pangan milik negara tersebut. Bedanya, penugasan beras selalu ada secara ajek, sementara kedelai hanya bersifat insidentil. Tahun sebelumnya, mekanisme serupa pernah dijalankan: Bulog menggunakan kedelai yang diimpor importir dengan harga tertentu, misal Rp A per kg. Produsen yang terdaftar secara by name by address cukup membayar Rp A dikurangi Rp2.000. Subsidi itu ditalangi lebih dulu oleh Bulog, yang kemudian mendapat kompensasi dari pemerintah, misal sekian persen.
Kenaikan Harga Bahan Baku yang Melebihi Toleransi
Keputusan ini muncul setelah harga kedelai di tingkat produsen tahu-tempe melonjak dari Rp9.000 per kg menjadi Rp11.300-an per kg. Kenaikan sekitar 25 persen itu dipicu harga kedelai di pasar dunia yang meroket akibat konflik geopolitik, biaya logistik yang membengkak, dan nilai tukar rupiah yang terus tertekan. Bagi perajin skala kecil-menengah, lonjakan tersebut berada di luar batas toleransi usaha mereka.
Ketika harga bahan baku naik terus-menerus, perajin tahu dan tempe menghadapi dilema. Menaikkan harga jual bukan opsi mudah karena konsumen tahu-tempe sangat peka terhadap perubahan harga atau price elastic. "Kala harga tahu-tempe naik, permintaan potensial menurun," tulis Khudori, anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO sekaligus pegiat Komite Pendayagunaan Pertanian dan AEPI, dalam analisisnya. Opsi lain yang kerap ditempuh adalah mengecilkan ukuran jualan, yang ujung-ujungnya memicu protes konsumen.
Sejarah Panjang Aksi Mogok yang Ingin Dihindari
Pemerintah tampak berusaha tidak mengulangi kesalahan masa lalu. Sejak 2008, setidaknya tujuh kali aksi mogok produksi massal dilakukan perajin tahu-tempe—tepatnya pada 2008, 2010, 2012, 2013, 2015, 2021, dan 2022. Pemicunya selalu sama: harga kedelai impor yang melambung tinggi. Subsidi yang baru diputuskan ini merupakan upaya agar jarum sejarah tidak berputar kembali, di mana pemerintah baru bergerak setelah ribuan perajin turun ke jalan.
Dampak dari mogok produksi tidak hanya dirasakan perajin. Tahu dan tempe telah menghidupi ratusan ribu rakyat jelata, mulai dari petani, produsen tempe-tahu-kecap, pedagang, hingga penjual gorengan pinggir jalan. Jika banyak usaha tutup, pengangguran bisa meledak. Subsidi kedelai sebesar Rp2.000 per kg diharapkan menjadi bantalan yang menjaga roda ekonomi sektor informal ini tetap berputar di tengah tekanan global yang belum mereda.