Pencarian

Fenomena Gunung Es LGBT di Merangin: Seorang Mahasiswa Terjaring Kasus Pencabulan, Akui Pernah Jadi Korban Sodomi

Senin, 08 Juni 2026 • 15:42:31 WIB
Fenomena Gunung Es LGBT di Merangin: Seorang Mahasiswa Terjaring Kasus Pencabulan, Akui Pernah Jadi Korban Sodomi
Mahasiswa di Merangin terjaring kasus pencabulan setelah mengakui pernah menjadi korban sodomi.

MERANGIN — Jeruji besi ruang tahanan Polres Merangin menjadi saksi bisu pengakuan pilu MR, seorang mahasiswa yang terpaksa berurusan dengan hukum karena mencabuli remaja yang masih di bawah umur. Dari hasil pemeriksaan dan perbincangan dengan wartawan, MR mengaku bahwa dirinya bukanlah pelaku murni, melainkan juga pernah menjadi korban sodomi saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

"Sebelumnya saya dak pernah punya orientasi seks menyimpang. Kehidupan saya normal saja tetapi setelah saya jadi korban sodomi, orientasi seks saya berubah," kata MR kepada DETAIL.ID di ruang tahanan Polres Merangin, belum lama ini.

Korban Sodomi Sejak SD, Kini Jadi Pelaku

MR menceritakan bahwa pelecehan pertama yang dialaminya dilakukan oleh seorang pria dari luar Kabupaten Merangin saat ia masih kelas 1 SD. Setelah itu, ia kembali menjadi korban sodomi oleh lima orang yang masih satu kampung dengannya.

Trauma masa kecil itu perlahan mengubah orientasi seksualnya. Rasa ingin mencoba semakin kuat setelah ia menonton film biru bergenre LGBT. Puncaknya pada tahun 2020, seorang teman memperkenalkannya pada aplikasi kencan khusus kaum gay.

"Dari sanalah saya mulai berkencan. Di Merangin ini sangat banyak, mereka berasal dari beragam kalangan, dan biasanya mereka akan ketemu di kos-kosan untuk melampiaskan nafsunya," ujar MR.

Modus Operandi: Aplikasi Biru dan Kos-Kosan

Menurut pengakuan MR, komunitas LGBT di Merangin sangat tertutup. Mereka menggunakan aplikasi biru yang mudah diunduh, dengan foto profil yang disamarkan menggunakan gambar animasi. Setelah saling berkirim pesan dan merasa cocok, mereka akan menentukan tempat pertemuan.

Para pelaku lebih memilih kos-kosan dibanding hotel untuk menghindari kecurigaan. "Kalau kehidupan mereka seperti normal-normal saja, kami bisa menutupi kehidupan menyimpang kami dengan hal positif dan hidup seperti orang biasa pada umumnya," tambah MR.

Ia juga mengaku memiliki pacar perempuan asal Kabupaten Kerinci yang tidak mengetahui perilaku seksual menyimpangnya. "Saya yakin tidak tahu dengan perilaku seks saya yang menyimpang," tuturnya.

Keluarga Tidak Curiga, Hanya Dikeluhkan Sakit Pinggang

Yang menarik dari kasus ini, keluarga MR mengaku tidak pernah mencurigai adanya penyimpangan perilaku seksual pada diri anaknya. Selama ini, MR hanya sering mengeluhkan sakit pinggang yang dianggap sebagai keluhan biasa.

"Saya melihat keluarga saya ini biasa saja dan normal-normal saja tapi memang sering mengeluhkan sakit pinggang saja," ujar seorang pria setengah baya yang merupakan anggota keluarga MR saat membesuk.

Fenomena Gunung Es yang Perlu Diwaspadai

Kasus MR hanyalah puncak dari fenomena LGBT di Merangin yang oleh berbagai pihak diibaratkan sebagai gunung es. Hanya sedikit kasus yang terungkap ke permukaan, sementara praktik serupa diduga masih marak terjadi di balik kehidupan normal para pelakunya.

Saat ini, MR masih harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum Polres Merangin. Kasus ini menjadi alarm bagi keluarga dan masyarakat untuk lebih waspada serta memberikan perlindungan terhadap anak-anak dari ancaman kekerasan seksual yang bisa mengubah masa depan mereka.

Bagikan
Sumber: detail.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks