JAMBI — Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu membeberkan tiga pilar utama untuk memastikan investasi yang masuk memiliki daya saing dan keberlanjutan. Ketiga pilar itu adalah perencanaan strategis (strategic planning), eksekusi yang baik, serta skema pemberian insentif.
“Koridor pemikirannya adalah bagaimana investasi yang masuk harus memiliki daya saing dan juga keberlanjutan. Kita tidak hanya fokus pada berapa banyak investasi yang masuk, namun bagaimana dampaknya ke peningkatan lapangan kerja serta ekosistem rantai pasok di Indonesia,” ujar Todotua dalam keterangan resmi, Sabtu (5/9/2026).
Pada pilar perencanaan strategis, pemerintah telah menyusun Peta Jalan Hilirisasi Investasi Strategis 2022 dan 2023. Dokumen ini menjadi acuan utama dalam mengarahkan investasi ke sektor-sektor yang selama ini masih mengekspor bahan mentah.
Peta jalan tersebut memetakan rencana hilirisasi untuk 28 komoditas yang tersebar di delapan sektor prioritas. Jika dieksekusi seluruhnya, potensi nilai investasi yang bisa dihasilkan mencapai USD618,1 miliar.
Adapun delapan sektor prioritas tersebut mencakup industri berbasis mineral, migas, batu bara, perkebunan, kehutanan, perikanan, hingga sektor-sektor lain yang dinilai memiliki nilai tambah tinggi. Fokus utamanya bukan sekadar membangun smelter atau pabrik pengolahan, melainkan menciptakan keterkaitan antarsektor.
Selain perencanaan, pemerintah menekankan pentingnya eksekusi yang baik. Artinya, proyek yang sudah masuk peta jalan harus dipermudah proses perizinannya dan dipastikan berjalan sesuai jadwal. Kemudahan ini menjadi sinyal positif bagi investor asing yang kerap menghadapi hambatan birokrasi di lapangan.
Skema insentif juga menjadi alat untuk menarik FDI ke sektor yang tepat sasaran. Pemerintah tidak ingin memberi fasilitas secara merata tanpa melihat dampak ekonomi yang dihasilkan. Insentif akan diarahkan pada proyek yang mampu menyerap tenaga kerja lokal dan membangun industri pendukung di dalam negeri.
Pendekatan ini menjawab kritik selama ini bahwa investasi di sektor sumber daya alam kerap bersifat enclave atau terisolasi. Dengan ekosistem rantai pasok yang terintegrasi, manfaat ekonomi bisa dirasakan oleh usaha kecil dan menengah di sekitar kawasan industri.
Bagi pelaku bisnis dan investor, kejelasan peta jalan ini mengurangi risiko ketidakpastian regulasi. Kepastian komoditas apa saja yang akan dihilirisasi memberi panduan bagi perusahaan dalam merencanakan ekspansi modal jangka panjang.
Di sisi lain, target penciptaan lapangan kerja menjadi indikator keberhasilan yang paling mudah diukur publik. Setiap proyek hilirisasi yang beroperasi tidak hanya membutuhkan tenaga kerja terampil untuk pabrik, tetapi juga tenaga pendukung untuk logistik, konstruksi, hingga jasa pemeliharaan.
Pemerintah perlu memastikan bahwa tenaga kerja Indonesia tidak hanya menjadi penonton di proyek-proyek besar ini. Program pelatihan dan transfer teknologi dari investor asing menjadi syarat penting agar dampak investasi terasa dalam jangka panjang.