Nilai tukar rupiah ditutup menguat 84 poin atau 0,47 persen ke level Rp17.679 per dolar AS pada perdagangan Kamis. Pelemahan ini didorong rilis data ketenagakerjaan swasta Amerika Serikat (AS) yang berada di bawah ekspektasi pasar. Kondisi tersebut memicu spekulasi pemangkasan suku bunga The Fed dan menekan indeks dolar AS (DXY) ke area 99,27.
tersebut memicu spekulasi pemangkasan suku bunga The Fed dan menekan indeks dolar AS (DXY) ke area 99,27. ISI:JAKARTA — Pergerakan rupiah berbalik arah setelah sehari sebelumnya tertekan di level Rp17.763 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia turut menguat ke Rp17.689 per dolar AS dari posisi Rp17.770 pada penutupan sebelumnya.
Katalis utama penguatan rupiah berasal dari rilis data ADP Employment Change. Penambahan pekerja swasta AS hanya tercatat 38 ribu orang pada Agustus, jauh di bawah estimasi pasar sebesar 47 ribu dan angka kenaikan bulan sebelumnya yang mencapai 46 ribu.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menilai lemahnya data tersebut mengubah ekspektasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter The Fed.
"Data ketenagakerjaan swasta AS lebih lemah dari perkiraan, sehingga ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed kembali menjadi perhatian," ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Di sisi lain, harga minyak yang mulai terkoreksi dari level tertingginya turut meredakan tekanan terhadap mata uang kawasan. Amru menambahkan, eskalasi konflik AS-Iran belum menjadi faktor dominan dalam pergerakan rupiah kali ini.
Kendati konflik tersebut meningkatkan ketidakpastian dan berpotensi mendorong lonjakan harga minyak, dolar AS justru mengalami koreksi. Indeks DXY terpantau melemah di area 99,27, membuka ruang apresiasi bagi rupiah dan sejumlah mata uang Asia lainnya.
"Penguatan rupiah hari ini lebih mencerminkan pelemahan dolar AS dan perubahan ekspektasi terhadap suku bunga, sementara risiko dari konflik AS-Iran tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan," kata Amru.
Pelaku pasar kini akan mencermati data inflasi AS berikutnya serta pernyataan pejabat The Fed untuk mengukur potensi pemangkasan suku bunga pada pertemuan mendatang.