JAMBI — Consumer Loan Group Head BRI R Madya Januar menyatakan keyakinannya bahwa kuota KUR Perumahan akan terserap penuh hingga akhir tahun. "Jadi setiap bank itu kan punya kuota. Nah tahun ini kita optimis bahwa kuota kita yang Rp14 triliun itu kita akan penuhi," ujar Madya dalam program CNN Indonesia Prime News Special Edition, Selasa (1/9).
Optimisme ini berakar pada catatan pertumbuhan penyaluran yang solid hingga awal kuartal ketiga. BRI menggenjot strategi pemanfaatan basis nasabah KUR yang terbukti sehat ketimbang mengandalkan skema pemasaran massal.
"Memang di satu sisi karena kami ini adalah bank penyalur KUR, dimana sebetulnya segmen di sisi demand side itu yang menjadi kekuatan kami. Makanya kalau kita lihat portofolio KPR itu 81 persen sampai 82 persen itu di sisi demand," jelasnya.
Artinya, mayoritas portofolio pembiayaan perumahan BRI bersumber dari pengajuan langsung nasabah, bukan program akuisisi massal. Fondasi ini menjaga kualitas aset karena calon debitur telah tervalidasi dari sisi kemampuan bayar serta karakter usahanya.
BRI tidak berhenti pada penyaluran KUR reguler. Madya mengungkapkan perseroan memanfaatkan data nasabah UMKM yang telah menuntaskan kewajiban KUR-nya sebagai pasar potensial pembiayaan properti. Mereka yang memiliki riwayat pembayaran lancar menjadi prioritas penawaran.
"Ini yang kita leverage sebetulnya, dari existing customer kita yang sudah lulus KUR-nya. Kita udah tahu kualitasnya. Ini yang kita coba tawarkan untuk pembiayaan," katanya.
Strategi ini menekan biaya akuisisi nasabah sekaligus mempercepat proses due diligence. Bank tidak perlu memeriksa dari nol karena rekam jejak finansial calon debitur sudah tercatat dalam sistem internal.
Madya menambahkan, arah pembiayaan perumahan BRI tidak melulu untuk kebutuhan tempat tinggal. Segmen UMKM yang membutuhkan lokasi pengembangan usaha seperti bengkel maupun workshop juga menjadi sasaran penyaluran. Dengan demikian, KUR Perumahan berfungsi ganda: memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sekaligus menjadi modal produktif bagi pengusaha kecil.
Bagi investor dan pelaku bisnis, realisasi KUR Perumahan ini menjadi indikator bahwa permintaan kredit ritel dan konsumsi masyarakat kelas menengah bawah masih terjaga. Bank dengan basis nasabah UMKM yang kuat seperti BRI dinilai memiliki daya tahan lebih baik dalam menjaga pertumbuhan kredit berkualitas.