JAMBI — Kami menguji Nissan Micra EV varian 52 kWh dalam kondisi berkendara harian dan jalan berkelok. Mobil ini bukan EV yang dikejar akselerasinya, melainkan kenyamanan dan kelincahan dalam kemasan kota yang ringkas. Pertanyaannya, apakah kompromi yang ditawarkan sebanding dengan banderolnya?
Karakter berkendara Micra EV menjadi kejutan paling menyenangkan. Setir memberikan feedback yang cukup jelas, sementara sasis terasa stabil ketika melewati tikungan. Mobil ini memang tidak dirancang untuk sprint 0-100 km/jam, tapi kemampuan mempertahankan kecepatan saat menikung adalah keunggulan utamanya.
Di jalan berkelok, Micra EV terasa komunikatif dan cukup menyenangkan untuk diajak bermain. Respons setirnya presisi tanpa terasa berat, sehingga pengemudi bisa merasakan jejak ban dengan cukup baik.
Sayangnya, ban bawaan pabrik menjadi kelemahan utama. Pabrikan memilih ban dengan prioritas efisiensi energi, bukan grip. Ketika mobil dipaksa berkendara agresif, traksi ban mulai terasa kurang—terutama saat keluar dari tikungan dengan akselerasi penuh.
Bagian paling mengejutkan dari Micra EV justru ada di baris kedua. Meski tidak dibekali fitur mewah seperti kursi berpemanas atau ventilasi, ruang yang tersedia cukup memadai untuk mobil sekelasnya.
Penguji dengan tinggi sekitar 185 cm masih bisa duduk nyaman di belakang kursi depan yang sudah diatur untuk pengemudi dengan postur serupa. Bahkan untuk penumpang berukuran normal, Micra EV dapat membawa empat orang dewasa dalam perjalanan harian tanpa keluhan berarti.
Ini berkat peletakan baterai di lantai yang tidak mengorbankan ruang kaki—salah satu keunggulan platform EV khusus dibandingkan konversi dari mesin konvensional.
Kapasitas bagasi standar Micra EV sebesar 326 liter masih cukup untuk kebutuhan belanja harian atau beberapa tas kabin. Namun saat digunakan untuk perjalanan jauh dengan banyak barang, ruang ini akan cepat terasa sempit.
Saat kursi belakang dilipat, kapasitas membengkak menjadi 1.106 liter. Tapi ada masalah: perbedaan ketinggian antara lantai bagasi dan sandaran kursi yang dilipat cukup besar. Akibatnya, ruang muat tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal—barang besar akan miring atau butuh penopang tambahan.
Lebih disayangkan lagi, Micra EV tidak memiliki frunk atau bagasi depan. Padahal ruang kecil tambahan di depan sangat berguna untuk menyimpan kabel pengisian daya yang biasanya kotor dan panjang. Anda harus menyimpannya di bagasi belakang atau di kabin.
Nissan Micra EV 52 kWh adalah pilihan tepat untuk pengguna yang prioritas utamanya mobil listrik kedua di perkotaan—kecil, lincah, dan nyaman untuk aktivitas harian. Ruang kabin yang lega dan handling menyenangkan menjadikannya salah satu EV kompak paling enak dikendarai di kelasnya.
Tapi untuk Anda yang sering membawa banyak barang atau membutuhkan fleksibilitas ruang kargo, ada baiknya melihat opsi lain. Kapasitas bagasi yang tidak optimal saat dilipat dan tidak adanya frunk adalah kekurangan yang cukup mengganggu untuk mobil dengan harga di kelas menengah.
Untuk pasar Indonesia yang belum resmi membawa Micra EV, mobil ini tetap menarik sebagai referensi—bahwa EV kecil tidak harus mengorbankan kepuasan berkendara demi jarak tempuh.