Sikka – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tengah menjajaki teknologi yang dapat mengubah air laut menjadi air tawar guna mempercepat pemulihan akses air bersih bagi warga Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang terdampak gempa bumi. Langkah ini ditempuh dengan membuka peluang kerja sama bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebagai bagian dari upaya memberikan solusi yang lebih efektif bagi masyarakat yang kesulitan mendapatkan sumber air bersih.
Menteri PU Dody Hanggodo mengungkapkan bahwa pihaknya telah mencari berbagai kemungkinan teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk menyediakan air bersih di Pulau Palue. Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) bersama Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago, serta jajaran Pemerintah Kabupaten Sikka dan seluruh balai Kementerian PU di NTT (23/8) malam.
“Saya sudah kontak Kepala BRIN, siapa tau mereka punya teknologi apapun untuk mengkonversi air laut itu menjadi tawar. Itu menurut saya akan jauh lebih efektif dan efisien,” ujar Dody Hanggodo.
Menurut Menteri Dody, tantangan penyediaan air bersih di Pulau Palue membutuhkan penanganan khusus. Kondisi geografis pulau yang relatif kecil serta keberadaan gunung berapi aktif membuat pencarian sumber air bersih menjadi tidak mudah. Hal ini pun sudah ia perkirakan sejak awal, sehingga diperlukan upaya ekstra untuk memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi.
“Saya sudah perkirakan, ini kan pulau tidak terlalu besar, kemudian saya juga terinfokan ada gunung berapi yang lumayan masih aktif, jadi saya sudah bayangkan bahwa itu akan susah mencari sumber air bersih. Tapi kita akan terus upayakan. Nanti kita yang jungkir balik untuk mencari apapun supaya teman-teman kita di Palue itu tetap merasa bagian dari NKRI,” kata Menteri Dody.
Kerusakan infrastruktur air bersih menjadi salah satu tantangan besar pada pascagempa di Kabupaten Sikka. Dari total 495 prasarana air bersih yang terdampak, sebanyak 481 unit mengalami kerusakan berat. Kerusakan di Kecamatan Palue terutama terjadi pada Bak Penampung Air Hujan (BPAH) milik masyarakat, sementara infrastruktur air bersih milik Perumda di wilayah daratan yang mengalami kerusakan ringan dan sedang telah dilakukan perbaikan.
Berdasarkan data yang dihimpun Kementerian PU dan Pemkab. Sikka, dampak kerusakan terbesar akibat gempa bumi terjadi pada sektor pelayanan dasar. Tak hanya air bersih, kerusakan juga terjadi pada 371 prasarana sanitasi. Sebanyak 302 unit di antaranya mengalami kerusakan berat, terutama fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) milik warga di Kecamatan Palue.
Menteri Dody menegaskan bahwa percepatan pemulihan infrastruktur dasar tersebut merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto agar masyarakat terdampak bencana dapat segera bangkit dan kembali menjalankan kehidupan secara normal. Menurutnya, langkah ini adalah wujud dukungan penuh pemerintah pusat untuk meringankan beban warga yang terkena musibah.
“Kami melaksanakan ini karena arahan dan dukungan penuh dari Bapak Presiden Prabowo Subianto, kita hanya membantu mewujudkan apa-apa yang beliau inginkan, sehingga warga yang terdampak bencana itu bisa secepatnya tersenyum,” tuturnya.
Dengan percepatan perbaikan infrastruktur sumber daya air dan sanitasi serta penjajakan teknologi konversi air laut menjadi air tawar, Kementerian PU berharap kebutuhan dasar masyarakat Pulau Palue dapat segera dipulihkan. Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan masyarakat terdampak gempa tidak hanya memperoleh penanganan darurat, tetapi juga solusi infrastruktur yang berkelanjutan.