JAMBI — Washington Post melaporkan bahwa jumlah armada MQ-9 Reaper yang hancur mencapai angka yang mengejutkan. Sebelum pertempuran dimulai, Amerika Serikat diperkirakan memiliki sekitar 185 unit pesawat nirawak ini. Artinya, hampir seperempat kekuatan udara tak berawak AS telah dilumpuhkan di medan tempur.
Kehilangan ini bukan hanya pukulan finansial, tetapi juga strategis. MQ-9 Reaper adalah tulang punggung operasi pengintaian dan serangan presisi militer AS, dan menggantinya bukanlah perkara instan.
MQ-9 Reaper memang dirancang untuk terbang lama, hingga 24 jam, di ketinggian sekitar 13.000 meter. Namun, kecepatan terbangnya yang rendah dan jalur terbang yang mudah diprediksi membuatnya rentan terhadap sistem pertahanan udara Iran.
Iran mengandalkan rudal pencegat 358 yang jauh lebih murah, dengan estimasi biaya antara USD 20.000 hingga USD 90.000 per unit. Bahkan jika Iran menembakkan 100 rudal untuk satu Reaper, total biayanya hanya sekitar USD 2 juta sampai USD 9 juta. Perbandingan ini menunjukkan keunggulan biaya yang ekstrem bagi Iran dalam perang gesekan ini.
Selain ditembak jatuh saat bertugas, sejumlah Reaper juga hancur di pangkalan militer AS ketika terkena serangan rudal Iran. Intensitas operasi di dekat Selat Hormuz dan wilayah udara Iran menjadi faktor utama di balik tingginya angka kehilangan ini.
Proses produksi Reaper memakan waktu lama, sementara kebutuhan operasional di berbagai medan perang lain tetap berjalan. Untuk menutup kekosongan ini, Pentagon telah mengambil langkah darurat dengan membeli unit-unit yang tersisa dari stok pabrikan General Atomics.
Krisis ini juga menyoroti tekanan besar pada persediaan amunisi dan rudal pencegat AS secara keseluruhan. Meskipun Pentagon membantah stok mereka menipis dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth membantah laporan komandan militer yang menyebut persediaan kritis, tekanan untuk mempercepat produksi senjata dari kontraktor pertahanan terus meningkat.
Dengan kerugian yang mencapai USD 1,3 miliar, Washington mulai mencari drone alternatif yang lebih murah dan bisa diproduksi dalam jumlah besar. Strategi ini dianggap lebih rasional secara ekonomi dibandingkan mengandalkan satu platform mahal yang mudah dihancurkan.
Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah drone murah tersebut mampu menandingi daya tahan terbang 24 jam dan kemampuan membawa muatan senjata berat seperti rudal Hellfire dan bom berpemandu Mark 82 milik Reaper.
MQ-9 Reaper sendiri tidak hanya dioperasikan oleh AS. Sejumlah negara sekutu seperti Inggris, Prancis, India, Jepang, dan Belanda juga mengandalkan pesawat nirawak buatan General Atomics ini untuk misi pengintaian dan serangan. Situasi ini menjadikan kerugian besar yang dialami AS sebagai sinyal peringatan bagi operator Reaper lainnya di dunia.