Fenomena ini terungkap dari wawancara dengan salah satu anggota tim Canonical, perusahaan pengembang di balik Ubuntu. Data internal menunjukkan tren adopsi yang tidak biasa: pengguna justru lebih memilih menjalankan Ubuntu di dalam sistem Windows ketimbang menginstalnya secara native di komputer Linux.
Pergeseran ini menarik karena selama ini narasi dominan di dunia teknologi selalu mengarah pada perjuangan Linux untuk merebut pangsa pasar dari Windows. Kenyataannya, jalan menuju "tahun Linux" yang selama ini dinanti para penggemar justru muncul dari arah yang tidak terduga.
Faktor utama di balik tren ini adalah kehadiran Windows Subsystem for Linux (WSL), fitur yang memungkinkan pengguna Windows menjalankan distribusi Linux tanpa perlu dual-boot atau virtual machine terpisah. WSL menghadirkan pengalaman Linux yang nyaris penuh — mulai dari baris perintah, tool pengembangan, hingga server — langsung di dalam ekosistem Windows.
Bagi developer, pendekatan ini menghilangkan hambatan teknis yang selama ini menghalangi adopsi Linux. Tidak perlu lagi mempartisi hard drive, mengatur boot loader, atau berhadapan dengan potensi konflik driver. Cukup beberapa perintah, Ubuntu berjalan di samping Windows.
Di pasar Indonesia, fenomena ini punya relevansi tersendiri. Komunitas Linux lokal yang selama ini gencar mempromosikan migrasi penuh ke sistem operasi open source mungkin perlu menyesuaikan strategi. Alih-alih mendorong pengguna untuk meninggalkan Windows sepenuhnya, pendekatan hibrida melalui WSL bisa menjadi pintu masuk yang lebih realistis.
Dunia pendidikan tinggi dan industri teknologi di Tanah Air juga diprediksi menjadi segmen yang paling diuntungkan. Mahasiswa dan developer yang terbiasa dengan lingkungan Windows dapat mulai belajar administrasi server Linux, scripting, dan pengembangan aplikasi tanpa harus mengorbankan sistem operasi utama mereka.
Jika tren ini berlanjut, lanskap penggunaan Linux akan berubah secara fundamental. Ubuntu mungkin tidak akan pernah menjadi sistem operasi utama di mayoritas komputer pribadi, tetapi ia bisa menjadi lapisan penting yang berjalan di atas sistem lain. Ironisnya, kesuksesan itu justru terjadi di atas fondasi yang selama ini dianggap sebagai pesaing utama.
Canonical sendiri belum merilis angka pasti mengenai perbandingan jumlah instalasi tersebut. Namun pernyataan dari internal perusahaan sudah cukup menjadi sinyal bahwa strategi mereka untuk merangkul Windows melalui WSL mulai membuahkan hasil.
Bagi pengguna di Indonesia yang penasaran mencoba Ubuntu tanpa ingin meninggalkan Windows, langkahnya cukup sederhana: aktifkan fitur WSL dari menu fitur Windows, lalu instal Ubuntu dari Microsoft Store. Prosesnya tidak sampai setengah jam, dan kedua sistem bisa berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu.