JAKARTA — Pemerintah tengah menyiapkan sejumlah terobosan untuk mempercepat transisi masyarakat dari kendaraan berbahan bakar bensin ke motor listrik. Selain menurunkan suku bunga kredit, skema tukar tambah kendaraan lama juga masuk dalam kajian Kementerian terkait.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh selamanya menggantungkan kebutuhan energinya pada pasokan dari luar negeri. Penguatan ekosistem kendaraan listrik dalam negeri dinilai menjadi salah satu kunci kemandirian energi nasional.
"Bunga cicilan kita turunkan untuk rakyat. Kemudian kita usahakan tidak pakai DP, jadi nanti kalau ada yang masih pakai motor bensin ya rasain sendiri," ujar Presiden di Cikarang, Kamis.
Pernyataan tersebut mengindikasikan adanya insentif finansial yang lebih ramah bagi konsumen. Dengan skema ini, pemerintah berharap harga motor listrik menjadi lebih terjangkau dibandingkan motor konvensional, sehingga masyarakat berbondong-bondong beralih.
Bagi masyarakat yang sudah terlanjur memiliki motor bensin, pemerintah juga menyiapkan skema khusus. Presiden menyebut potensi penukaran kendaraan lama dengan motor listrik tengah dipikirkan secara matang.
"Kita ada skema-skema nanti yang sudah terlanjur punya motor bensin. Jadi nanti kita pikirkan bagaimana kita bisa tukar tambah," kata Prabowo menambahkan.
Kebijakan ini dinilai strategis karena menyasar pemilik kendaraan eksisting yang selama ini menjadi pangsa pasar terbesar. Dengan adanya opsi tukar tambah, hambatan biaya untuk berpindah ke kendaraan listrik diharapkan bisa diminimalisir.
Presiden menyoroti efisiensi biaya yang ditawarkan motor listrik. Menurutnya, penggunaan motor listrik dapat menghemat pengeluaran hingga 50 persen jika dibandingkan dengan motor bensin. Bahkan, untuk pengeluaran harian, penghematan bisa mencapai angka 70 persen.
Selain insentif finansial, pemerintah juga membuka peluang penerapan pajak karbon di kota-kota besar. Merujuk pada skema yang diterapkan di Beijing, China, terdapat potensi larangan masuk motor bensin di kawasan tertentu sebagai bentuk disinsentif.
Pemerintah saat ini tengah menyiapkan perkembangan ekosistem pasar mobil listrik, termasuk pendirian pabrik baru di Subang, Jawa Barat. Produksi pabrik tersebut ditargetkan dimulai pada 2028 mendatang.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo juga mengapresiasi keberanian pelaku usaha swasta yang memproduksi motor listrik di tengah gempuran produk buatan China, Jepang, ataupun Korea Selatan. Keberanian tersebut dinilai sebagai bagian dari kepentingan nasional dalam mengurangi ketergantungan terhadap BBM impor.