MUARO JAMBI — Suasana berbeda terlihat di Lapas Jambi pekan ini. Lapangan olahraga dan panggung seni di dalam kompleks pemasyarakatan berubah menjadi arena kompetisi bagi warga binaan. Mereka bertanding dalam berbagai cabang olahraga dan unjuk kreativitas seni, menyambut peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Jambi, Irwan Rahmat Gumilar, secara resmi membuka rangkaian kegiatan tersebut. Pembukaan ditandai dengan pelepasan balon udara ke langit, sebuah simbol bahwa seluruh agenda Pekan Olahraga dan Seni telah dimulai.
Irwan menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang bukan sekadar untuk meramaikan Hari Kemerdekaan. Ia menyebut olahraga dan seni merupakan instrumen pembinaan yang efektif bagi warga binaan.
"Pekan Olahraga dan Seni ini bukan sekadar perlombaan atau hiburan. Ini merupakan bagian dari pembinaan untuk memberikan ruang kepada warga binaan dalam mengembangkan potensi diri, menyalurkan bakat, sekaligus membangun karakter yang disiplin, sportif dan mampu bekerja sama," ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa nilai utama dari seluruh rangkaian acara ini bukan terletak pada siapa yang keluar sebagai juara. Proses yang dijalani para peserta jauh lebih penting karena di dalamnya terkandung pembelajaran tentang disiplin, kepatuhan pada aturan, serta sportivitas dalam menerima hasil akhir.
Kepala Lapas Jambi, Syahroni Ali, menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembinaan tetap berjalan humanis meski di dalam sel. Pihaknya menyiapkan beragam cabang olahraga dan kegiatan seni yang diikuti oleh pegawai serta seluruh warga binaan.
"Kami berharap seluruh warga binaan dapat mengikuti kegiatan ini dengan penuh semangat, tertib dan menjunjung tinggi sportivitas. Selain untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, kegiatan ini menjadi wadah bagi warga binaan untuk menyalurkan bakat dan kreativitas serta membangun rasa kebersamaan," kata Syahroni.
Pekan Olahraga dan Seni ini diharapkan mampu menciptakan suasana pemasyarakatan yang lebih harmonis, aman, dan kondusif. Lebih dari itu, semangat kemerdekaan yang dirayakan di balik tembok lapas menjadi pengingat bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berubah menjadi lebih baik.
Kemenangan terbesar bagi warga binaan bukan diukur dari piala yang diraih, melainkan dari kemampuan mereka memenangkan diri sendiri. Proses pembinaan yang sedang dijalani menjadi bekal untuk menyiapkan langkah baru ketika nantinya kembali menjadi bagian dari masyarakat.