Rektor UIN STS Jambi Dorong 487 Lulusan FTK Lanjut ke Pascasarjana dan Wajib Mandiri, Wisuda Dihadiri Menag

Penulis: Zulkarnain Hamid  •  Kamis, 06 Agustus 2026 | 12:42:31 WIB
Ratusan calon wisudawan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi mengikuti Yudisium XXXII di Abadi Hotel Jambi, Kamis (6/8/2026).

JAMBI — Ratusan calon wisudawan Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin (UIN STS) Jambi mendapat pesan tegas untuk berhenti bergantung pada orang tua. Pesan itu disampaikan Rektor Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M.Pd. di tengah gelaran Yudisium XXXII Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) yang berlangsung di Abadi Hotel Jambi, Kamis (6/8/2026).

“Setelah menjadi sarjana, jangan lagi bergantung kepada orang tua. Gunakan kemampuan yang dimiliki untuk menghasilkan sesuatu, baik melalui pendidikan, usaha, maupun bidang lain yang bermanfaat,” kata Prof. Kasful di hadapan para peserta yudisium.

Wisuda Digelar Mewah: Menag dan Gubernur Dipastikan Hadir

Momen kelulusan periode ini disebut bakal berbeda dari biasanya. Rektor mengungkapkan bahwa prosesi wisuda yang direncanakan berlangsung akhir Agustus nanti akan dihadiri oleh Menteri Agama Republik Indonesia. Undangan juga telah disampaikan kepada Gubernur, Wakil Gubernur, serta para bupati di sekitar lingkungan kampus UIN STS Jambi.

“Insya Allah wisuda periode Agustus akan dihadiri Bapak Menteri Agama Republik Indonesia. Jadwalnya sudah masuk melalui Sekretaris Menteri. Mohon doa agar tidak ada perubahan,” ujarnya.

Jalur Publikasi Ilmiah: Tanpa Skripsi, Lulus dengan Prestasi

Di tengah prosesi, Rektor menyoroti satu capaian membanggakan dari salah seorang peserta yudisium. Mahasiswa tersebut berhasil menyelesaikan studi tanpa menulis skripsi konvensional, melainkan melalui publikasi ilmiah di jurnal terindeks SINTA 2.

Menurut Prof. Kasful, capaian ini membuktikan bahwa mahasiswa UIN STS Jambi mampu menghasilkan karya tulis ilmiah yang diakui secara nasional. “Capaian tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa mampu menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya,” tuturnya.

Sebaran Lulusan: PAI Dominasi, Fisika Hanya 4 Peserta

Ketua Panitia, Edi Rozal, M.Pd., melaporkan total peserta yudisium mencapai 487 mahasiswa yang tersebar di sembilan program studi. Pendidikan Agama Islam menjadi penyumbang lulusan terbanyak dengan 177 peserta, disusul Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah sebanyak 103 peserta, dan Manajemen Pendidikan Islam dengan 75 peserta.

Program studi lainnya mencatatkan jumlah lebih kecil, yakni Pendidikan Bahasa Arab 29 peserta, Tadris Bahasa Inggris 27 peserta, Tadris Matematika 26 peserta, Tadris Biologi 18 peserta, Pendidikan Islam Anak Usia Dini 18 peserta, serta Tadris Fisika yang hanya meluluskan 4 mahasiswa. Yudisium ini mengusung tema “Pendidik Cerdas dan Berdampak di Era Digital Menuju Indonesia Emas.”

Akhlak Lebih Penting dari Ilmu: Pesan Dekan FTK

Dekan FTK UIN STS Jambi, Dr. Hj. Fadlilah, M.Pd., mengingatkan bahwa gelar sarjana tidak menjamin kesuksesan jika tidak diimbangi dengan kepribadian yang baik. Ia menekankan pentingnya integritas di dunia kerja dan masyarakat.

“Keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh ilmu, tetapi juga oleh kemuliaan akhlak. Setinggi apa pun ilmu yang dimiliki, tanpa akhlak seseorang tidak akan memperoleh kepercayaan dan keberkahan,” ujarnya.

Para alumni juga diminta menjaga nama baik almamater di mana pun berada. “Ke mana pun kalian pergi, ingat bahwa ada almamater UIN STS Jambi yang harus dijaga melalui sikap, perilaku, dan cara berinteraksi dengan sesama,” pesan Dr. Fadlilah.

Lanjut S2 atau Buka Usaha? Ini Arahan Rektor

Di akhir sambutannya, Prof. Kasful memberikan dua opsi konkret bagi para lulusan untuk mengembangkan diri. Pertama, melanjutkan studi ke jenjang magister dan doktor, yang menurutnya sudah difasilitasi oleh Pascasarjana UIN STS Jambi dengan berbagai program studi unggulan.

Kedua, merintis kemandirian melalui kewirausahaan. Rektor mengajak para sarjana untuk berani menggantungkan cita-cita setinggi langit, namun tetap realistis dan terukur. “Gantungkan cita-citamu setinggi langit, tetapi mimpi itu harus nyata. Misalnya, setelah menjadi doktor bercita-cita menjadi profesor atau melanjutkan pendidikan hingga jenjang magister dan doktor,” pungkasnya.

Reporter: Zulkarnain Hamid
Sumber: uinjambi.ac.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top