Debit Sungai Batanghari di Jambi Susut di Bawah Normal, Daratan Lumpur Muncul di Tepian dan Ancaman Karhutla Mengintai

Penulis: Syamsudin Rasyid  •  Selasa, 04 Agustus 2026 | 23:23:01 WIB
Debit Sungai Batanghari di Kota Jambi tercatat 8,37 meter, atau 0,63 meter di bawah batas normal.

JAMBI — Ancaman kekeringan kini menghampiri Sungai Batanghari. Pos Duga Air Otomatis (AWLR) Tanggo Rajo, Kota Jambi, mencatat tinggi muka air sungai berada di angka 8,37 meter pada Selasa (4/8) pagi, atau sekitar 0,63 meter di bawah batas normal yang seharusnya mencapai 9 meter.

Petugas pemantau debit air di pos tersebut, Syahruddin, mengatakan penyusutan ini bukan fenomena baru. Kondisi tersebut telah berlangsung secara bertahap selama tiga bulan terakhir dan diperparah oleh puncak musim kemarau yang diprediksi masih akan berlanjut hingga September 2026.

Permukaan Air Terus Merosot, Sore Hari Kian Kritis

Yang mengkhawatirkan, kata Syahruddin, penurunan muka air terjadi hampir setiap hari. "Sudah lebih kurang tiga bulan air terus menyusut. Kemarin sore saja sempat turun sampai 7,97 meter, sedangkan paginya masih di atas 8 meter," ujarnya saat diwawancarai, Selasa (4/8).

Ia menjelaskan, fenomena ini tidak hanya bergantung pada curah hujan di wilayah hulu. Faktor pasang surut air laut juga menjadi penentu utama. "Kalau musim kemarau masih berlangsung, air bisa turun lagi. Walaupun di hulu hujan, kalau air laut tidak pasang, tinggi muka air tetap akan turun," jelas Syahruddin.

Lahan Gambut Muarojambi Kini Rawan Terbakar

Penyusutan debit air ini membawa dampak berantai. Selain mengubah wajah sungai, kondisi kering juga meningkatkan risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), khususnya di kawasan gambut yang tersebar di Kabupaten Muarojambi.

"Daerah yang rawan sekarang tentu rawan kebakaran. Apalagi di wilayah Muarojambi yang banyak memiliki lahan gambut. Kalau semakin kering, lahan akan semakin mudah terbakar," kata Syahruddin mengingatkan.

Kualitas Air Tetap Keruh, PETI Jadi Biang Masalah

Di tengah surutnya debit, kualitas air Sungai Batanghari juga belum menunjukkan perbaikan. Warna keruh yang selama ini dikeluhkan warga dinilai bukan semata akibat kemarau, melainkan karena aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang masih marak di sepanjang aliran sungai.

"Air sudah lama keruh dan belum bisa bersih. Selama masih ada penambangan liar, air akan tetap keruh," tegas Syahruddin.

Lumpur dan Pasir Mengubah Wajah Tepian Sungai

Pantauan di lapangan menunjukkan, penyusutan ini telah menyisakan hamparan lumpur dan gundukan pasir di sejumlah titik tepian sungai yang sebelumnya terendam air. Kondisi ini mulai mempersempit ruang gerak warga yang selama ini memanfaatkan Batanghari sebagai jalur transportasi air maupun sumber mata pencaharian, seperti penambang pasir dan nelayan sungai.

Jika musim kemarau terus berlanjut, bukan tidak mungkin aktivitas ekonomi di sepanjang aliran Batanghari akan semakin terganggu, dan risiko titik api di lahan gambut akan semakin tinggi.

Reporter: Syamsudin Rasyid
Sumber: jambiindependent.disway.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top