JAMBI - Penerapan pola hidup sehat sejak usia muda dinilai efektif dalam menekan risiko kanker payudara, salah satu penyakit yang kerap mengancam kesehatan perempuan.
Semakin dini kebiasaan sehat dijalankan, semakin kecil pula peluang munculnya gangguan pada jaringan payudara di kemudian hari.
Sebagai catatan, kanker payudara memang tergolong penyakit yang cukup banyak ditemukan pada perempuan, baik di Indonesia maupun di berbagai negara lain.
Merujuk data Kementerian Kesehatan RI, jumlah kasus yang terdeteksi pada tahun 2020 saja sudah mencapai puluhan ribu.
Penyakit ini bermula dari sel-sel jaringan payudara yang tumbuh secara tidak normal dan tak terkendali sehingga membentuk benjolan.
Tanpa penanganan yang cepat, pertumbuhan sel tersebut bisa berkembang dan menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan penderitanya.
Untuk itu, memahami langkah-langkah pencegahan menjadi hal yang tak boleh diabaikan, agar risiko kanker payudara bisa diminimalkan melalui kebiasaan hidup sehat yang dijaga secara terus-menerus.
Hormon estrogen dan progesteron yang secara alami memengaruhi jaringan payudara membuat perempuan memiliki risiko kanker payudara yang lebih tinggi dibandingkan pria.
Kedua hormon inilah yang menjadikan kaum perempuan kelompok paling rentan terhadap penyakit ini.
Selain faktor hormonal tersebut, ada pula beberapa kondisi lain yang berpotensi meningkatkan risiko seseorang terkena kanker payudara, di antaranya:
Meski tergolong penyakit yang berat, kanker payudara tetap dapat diminimalkan risikonya asalkan langkah pencegahan diterapkan secara tepat dan konsisten dalam keseharian. Semakin cepat langkah ini diambil, semakin besar peluang untuk mempertahankan kesehatan payudara.
Berikut rangkaian cara mencegah kanker payudara yang dapat diterapkan secara alami guna menurunkan kemungkinan munculnya penyakit ini.
1. Mempertahankan berat badan ideal
Berat badan yang seimbang menjadi salah satu faktor penting dalam menekan kemungkinan munculnya kanker payudara.
Berat badan berlebih, apalagi hingga masuk kategori obesitas, dikaitkan dengan naiknya risiko kanker pada jaringan payudara.
Bahkan, obesitas juga disebut-sebut berhubungan dengan meningkatnya risiko komplikasi serta angka kematian pada penderita kanker payudara, menurut sejumlah studi.
Karena itu, menjaga berat badan tetap berada pada rentang normal sesuai indeks massa tubuh menjadi salah satu langkah pencegahan yang dianjurkan.
Pola makan teratur, pemilihan makanan bergizi seimbang, serta pengurangan konsumsi lemak jenuh dan gula berlebih dapat membantu mencapai hal tersebut.
Aktivitas harian yang menjaga metabolisme tetap aktif juga berperan dalam mengendalikan berat badan agar stabil dalam jangka panjang.
2. Aktif bergerak untuk menekan risiko kanker payudara
Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin memberi dampak positif terhadap penurunan risiko kanker payudara.
Perempuan yang konsisten aktif secara fisik disebut memiliki risiko sekitar 20% lebih rendah dibandingkan mereka yang cenderung pasif atau lebih banyak duduk, menurut beberapa penelitian.
Bergerak aktif membantu menstabilkan hormon, melancarkan sirkulasi darah, serta memperkuat sistem kekebalan tubuh yang berperan melawan pertumbuhan sel abnormal.
Hal-hal sederhana seperti berjalan kaki setiap hari, memilih naik tangga ketimbang lift, atau aktif mengerjakan pekerjaan rumah tangga sudah cukup memberi manfaat bagi kesehatan.
Konsistensi bergerak turut menjaga stamina tubuh dan mencegah penumpukan lemak yang berkaitan dengan naiknya risiko kanker.
3. Berolahraga secara teratur
Di luar aktivitas ringan seperti berjalan kaki, olahraga yang lebih terstruktur juga penting dilakukan agar tubuh tetap dalam kondisi sehat.
Olahraga rutin dapat meningkatkan kebugaran fisik secara menyeluruh, memperbaiki metabolisme tubuh, sekaligus menjaga keseimbangan hormon.
Ketiganya berkontribusi pada penurunan risiko munculnya kanker payudara.
Tidak perlu olahraga berat, jenisnya bisa disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, seperti jogging, bersepeda, senam aerobik, yoga, hingga latihan kekuatan ringan.
Yang terpenting adalah konsistensi, misalnya dilakukan selama 30 menit setiap hari atau beberapa kali dalam seminggu.
Dengan begitu, tubuh menjadi lebih kuat, daya tahan meningkat, dan risiko berbagai penyakit kronis termasuk kanker payudara dapat ditekan.
4. Mengurangi konsumsi alkohol
Konsumsi alkohol berlebihan terbukti berkaitan erat dengan meningkatnya risiko kanker payudara.
Zat ini dapat mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh, terutama estrogen yang berperan dalam pertumbuhan sel di jaringan payudara.
Gangguan pada kadar hormon tersebut turut membuka peluang munculnya perkembangan sel yang tidak normal.
Beberapa penelitian menyebutkan, orang yang mengurangi atau berhenti mengonsumsi alkohol memiliki risiko kanker payudara yang lebih rendah dibandingkan yang rutin mengonsumsinya.
Karena itu, langkah yang dianjurkan adalah mengurangi konsumsi alkohol secara bertahap, atau menghindarinya sepenuhnya demi kesehatan jangka panjang.
Kebiasaan ini juga memberi manfaat tambahan, seperti menjaga fungsi hati, memperbaiki kualitas tidur, dan meningkatkan kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan.
5. Membatasi asupan daging olahan
Langkah penting lain untuk menekan risiko kanker payudara adalah membatasi konsumsi produk daging yang telah diawetkan atau diolah.
Produk seperti bacon, sosis, bakso olahan, hingga kornet umumnya melalui proses pengolahan dengan tambahan bahan tertentu.
Bahan tersebut sering kali mengandung pengawet, kadar garam tinggi, serta zat aditif yang berfungsi memperpanjang masa simpan dan menambah cita rasa makanan.
Konsumsi berlebihan dalam jangka panjang dapat membebani kerja organ tubuh yang harus terus memproses zat tambahan tersebut.
Sebagai gantinya, protein bisa diperoleh dari sumber yang lebih alami, seperti ikan segar, dada ayam tanpa kulit, telur, tempe, atau tahu.
Pola makan seimbang semacam ini turut membantu menjaga berat badan sekaligus mendukung fungsi tubuh agar lebih optimal dan tahan terhadap berbagai risiko penyakit.
6. Memperbanyak sayur, buah, dan biji-bijian
Konsumsi makanan berbasis tumbuhan seperti sayur, buah, dan biji-bijian memberi manfaat besar bagi kesehatan tubuh sekaligus membantu menurunkan risiko kanker payudara.
Kandungan serat, vitamin, mineral, dan antioksidan pada makanan ini berperan melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.
Mengganti sebagian sumber karbohidrat sederhana seperti nasi putih dengan pilihan yang lebih kaya serat, misalnya nasi merah atau beras gandum, bisa membuat hasilnya lebih optimal.
Oat, kacang-kacangan, dan aneka polong-polongan turut membantu menjaga keseimbangan nutrisi serta memperbaiki sistem pencernaan.
Kebiasaan ini, bila dijaga secara bertahap, akan memberi dampak positif bagi kesehatan dalam jangka panjang.
7. Menghentikan kebiasaan merokok
Kebiasaan merokok telah lama dikaitkan dengan meningkatnya risiko berbagai jenis kanker, tak terkecuali kanker payudara.
Zat berbahaya dalam rokok dapat merusak sel tubuh, mengganggu keseimbangan hormon, dan menurunkan kemampuan sistem imun dalam melawan pertumbuhan sel abnormal.
Perokok pun cenderung memiliki risiko kanker payudara yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak merokok.
Karena itu, berhenti merokok menjadi salah satu langkah krusial dalam upaya pencegahan.
Proses ini bisa dilakukan secara bertahap, mulai dari mengurangi jumlah konsumsi harian, menjauhi pemicu kebiasaan merokok, hingga akhirnya berhenti total.
Selain menekan risiko kanker, berhenti merokok turut memperbaiki fungsi paru-paru dan kesehatan jantung.
8. Menyusui dan perannya menekan risiko kanker payudara
Menyusui ternyata memiliki manfaat tambahan bagi kesehatan ibu, salah satunya membantu menurunkan risiko kanker payudara.
Proses menyusui diyakini turut mengatur keseimbangan hormon dalam tubuh serta mengurangi jumlah sel payudara yang berpotensi mengalami perubahan abnormal.
Perempuan yang menyusui lebih dari 12 bulan tercatat memiliki risiko sekitar 11% lebih rendah dibandingkan yang tidak menyusui atau menyusui dalam waktu lebih singkat, menurut beberapa studi.
Di samping itu, menyusui juga membantu pemulihan tubuh usai melahirkan sekaligus mempererat ikatan emosional antara ibu dan anak.
Karena manfaat-manfaat inilah, menyusui dianggap sebagai salah satu faktor pendukung menjaga kesehatan jangka panjang.
9. Memperhatikan riwayat kesehatan keluarga
Anggota keluarga yang pernah mengidap kanker payudara bisa menjadi salah satu faktor yang memperbesar kemungkinan seseorang mengalami kondisi serupa.
Hal ini terjadi karena faktor genetik ikut mewariskan kecenderungan tertentu yang membuat sel tubuh lebih rentan berubah menjadi abnormal.
Oleh sebab itu, mencatat riwayat penyakit keluarga secara rinci dan mendiskusikannya dengan tenaga medis menjadi langkah yang penting dilakukan.
Lewat konsultasi tersebut, dokter dapat menilai tingkat risiko individu secara lebih akurat serta menentukan langkah pencegahan yang sesuai, misalnya pemeriksaan berkala atau skrining lebih awal dibandingkan orang tanpa riwayat keluarga.
Pendekatan semacam ini turut membuka peluang deteksi dini yang lebih besar, sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.
10. Rutin melakukan deteksi dini
Langkah pencegahan yang tak kalah penting adalah rutin melakukan deteksi dini terhadap kanker payudara.
Deteksi mandiri bisa dilakukan lewat pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) guna mengenali perubahan bentuk, ukuran, atau adanya benjolan yang tidak wajar.
Selain itu, pemeriksaan klinis oleh tenaga kesehatan (Sadanis) tetap diperlukan agar hasil yang didapat lebih akurat dan menyeluruh.
Deteksi yang dilakukan sejak tahap awal berperan besar dalam menekan risiko komplikasi serius sekaligus memperbesar peluang kesembuhan.
Sejumlah hasil penelitian, termasuk yang dimuat jurnal Frontiers in Oncology, mencatat tingkat kelangsungan hidup penderita kanker payudara dalam lima tahun terakhir bisa mencapai sekitar 90%.
Angka tersebut sangat dipengaruhi oleh keberadaan program skrining dan deteksi dini yang dijalankan secara rutin dan berkesinambungan.
Semakin cepat kondisi ini teridentifikasi, semakin besar pula peluang mengambil tindakan medis yang tepat sebelum sel kanker berkembang lebih jauh.
Hal ini pada gilirannya membuat berbagai upaya pencegahan lanjutan bisa dijalankan lebih efektif, sehingga penyebaran sel abnormal dapat ditekan sejak dini dan risiko yang lebih berat bisa dicegah.
Langkah-langkah tersebut, bila dijalankan bersamaan dengan pemeriksaan rutin, memberi peluang lebih besar bagi perempuan untuk mendeteksi kanker payudara pada stadium yang masih bisa ditangani secara maksimal.