JAMBI — Redaksi Car and Driver, November 1999, pernah melakukan hal gila: membandingkan dua Mustang yang sama sekali berbeda. Satu mobil dengan kecepatan puncak 162 mph, satu lagi pesawat tempur yang bisa terbang 437 mph. Satu punya ground clearance 6,5 inci, yang lain bisa terbang di ketinggian 41.900 kaki. Satu dipersenjatai enam senapan mesin, yang lain tidak punya senjata sama sekali. Ini bukan lelucon—ini pekerjaan jurnalistik yang serius, meski terlihat seperti mimpi basah anak kecil.
Di satu sisi ada mobil Mustang besutan Roush Performance yang digadang-gadang sebagai "thoroughbred workhorse". Di sisi lain ada pesawat P-51 Mustang buatan North American Aviation tahun 1944—ikon perang yang jadi cinta pertama Jack Roush. Roush sendiri bukan orang sembarangan: pemilik lima tim Winston Cup, dua tim Busch, dua tim Craftsman Truck, dan otak di balik mesin Olds V-8 yang menang Indy 500 tahun itu.
P-51 miliknya masih memakai kanopi Plexiglas asli—lebih langka dari Mustang convertible 1966 dengan kanvas original. Dicat menyerupai pesawat "Old Crow" milik ace C.E. "Bud" Anderson, pesawat ini tidak pernah melihat pertempuran. Sempat jadi trainer tahun 1944-45, lalu dijual ke militer Kanada, dan akhirnya jatuh ke tangan Roush tujuh tahun lalu.
Harga produksi pesawat ini tahun 40-an cuma USD 44.000 (sekitar Rp 700 juta dengan kurs sekarang), plus USD 9.000 untuk mesinnya. Tapi setelah restorasi total selama 10 bulan—mulai dari "sekadar" overhaul mesin, hidrolik, kelistrikan, sampai avionik—nilainya melonjak ke USD 1,4-1,8 juta atau sekitar Rp 22-28 miliar. "Anda bisa dapat Mustang yang layak terbang dalam kondisi kasar mulai USD 800.000," kata Roush. "Jumlah itu setara dua Cobra original? P-51 lebih seru dari dua Cobra. Lebih seru dari empat Cobra."
Roush mengaku awalnya cuma mau "beresin mesin", tapi kemudian berlanjut ke hidrolik, kelistrikan, avionik—dan semuanya. Asisten administrasinya, Brenda Stricklin, mengingatkan: "Jack itu perfeksionis. Kalau sudah mulai, tidak ada yang setengah-setengah."
P-51 bisa melaju hingga 505 mph saat menyelam di masa perang—sekitar 75 persen kecepatan suara. Roush pernah membawanya tembus 400 mph, dengan kecepatan jelajah 380 mph. Bandingkan dengan mobil Mustang Roush yang "cuma" 162 mph. Tapi inilah bagian yang bikin kita tersenyum: P-51 dengan mesin Rolls-Royce Merlin V-12-nya mencatat 5 mil per galon, sementara CitationJet—pesawat jet pribadi Roush yang jelajah 420 mph—hanya 3,8 mil per galon. Ya, pesawat tempur era 40-an lebih irit dari jet modern.
Dengan 250 galon bahan bakar 100-oktan low-lead, P-51 bisa terbang nonstop dari Detroit ke Daytona dalam waktu kurang dari empat jam. Roush rutin menerbangkannya ke dua balapan: Charlotte dan Talladega. Setiap Selasa, dia terbang pakai CitationJet dari Detroit ke North Carolina—90 menit sekali jalan—untuk mengawasi tim Winston Cup-nya.
Roush tidak asing dengan masalah mesin. "Saya pernah membakar piston dalam perjalanan pulang ke Detroit," kenangnya. "Mesinnya berbunyi aneh, bergetar, lalu asap keluar. Kalau ada satu hal yang saya paham soal mesin, mesin bekerja baik sampai Anda membiarkan asapnya keluar." Dia berhasil mendarat darurat di Toledo, Ohio.
Insiden lain terjadi di Oshkosh, Wisconsin, saat pilot sewaan mendaratkan pesawat dengan strut kanan yang gagal deploy. "Merusak baling-baling, sayap kanan, scoop bawah, dan flap. Tapi saya perbaiki dalam enam minggu. Pesawat ini sangat kuat secara struktural—pada dasarnya tidak bisa dihancurkan. Tentu saja, kalau Anda punya suku cadang." Roush punya 16 mesin Rolls-Royce Merlin V-12, empat di antaranya siap hidup kapan saja.
Perbandingan ini memang tidak masuk akal secara praktis. Tapi justru di situlah pesannya: definisi "kendaraan performa" sangat tergantung konteks. Mobil Mustang Roush jelas lebih praktis untuk harian—parkir mudah, bensin lebih murah, tidak perlu izin terbang. Tapi P-51 menawarkan sesuatu yang tidak bisa ditiru: sensasi terbang di ketinggian 42.000 kaki dengan mesin V-12 bertenaga kuda sungguhan.
Untuk kolektor dengan dana segar Rp 28 miliar, P-51 adalah investasi emosional yang nilainya justru naik. Untuk pengguna harian yang butuh performa jalanan, mobil Roush jauh lebih masuk akal—dan tidak butuh hanggar. Pilihan akhirnya sederhana: mau macan di jalan, atau elang di langit?
Catatan: Artikel ini merupakan adaptasi dari fitur "Wild Horses" yang terbit di Car and Driver edisi November 1999. Harga dan nilai tukar disesuaikan dengan kurs estimasi Rp 16.000 per USD untuk konteks pembaca Indonesia.