Momen Haru di LPKA Muara Bulian: Anak Binaan Bersujud Minta Maaf ke Orang Tua di Hari Anak Nasional 2026, 12 Dapat Remisi

Penulis: Syamsudin Rasyid  •  Kamis, 23 Juli 2026 | 17:14:01 WIB
Anak binaan LPKA Muara Bulian bersimpuh dan mencium tangan orang tua dalam prosesi sungkeman di peringatan Hari Anak Nasional 2026.

MUARA BULIAN — Tangis haru pecah di Aula LPKA Kelas II Muara Bulian, Batanghari, saat prosesi sungkeman berlangsung dalam peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026, Rabu (23/7/2026). Para anak binaan satu per satu mendekati orang tua mereka, bersimpuh, dan mencium tangan sambil memohon maaf atas kesalahan masa lalu. Pelukan erat dan doa dari para orang tua mengiringi momen yang penuh emosi tersebut.

Kepala LPKA Kelas II Muara Bulian, J. Kasogi Surya Fattah, mengatakan peringatan HAN bukan sekadar seremoni tahunan. “Melalui tema Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan, kami ingin menegaskan bahwa pembinaan di LPKA tidak hanya berorientasi pada penegakan hukum, tetapi juga pada pemulihan, pendidikan, pembentukan karakter, dan penguatan hubungan anak dengan keluarga sebagai fondasi utama keberhasilan reintegrasi sosial,” ujarnya dalam laporan kegiatan.

12 Anak Binaan Terima Remisi HAN 2026

Puncak acara diawali dengan penyerahan Surat Keputusan Pengurangan Masa Pidana (Remisi Hari Anak Nasional) kepada 12 anak binaan yang memenuhi syarat administratif dan substantif. Remisi ini diberikan sebagai bentuk penghargaan negara atas disiplin, perubahan sikap, serta keaktifan mereka mengikuti program pembinaan di LPKA.

Bupati Batanghari Muhammad Fadhil Arief yang hadir langsung menyerahkan remisi tersebut. Ia menekankan bahwa setiap anak adalah aset bangsa yang harus diberikan kesempatan kedua. “Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa tidak ada anak yang kehilangan harapan. Mereka membutuhkan dukungan, pembinaan, dan kasih sayang agar mampu kembali menjadi generasi yang produktif, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat,” kata Fadhil dalam sambutannya.

Pendekatan Humanis Jadi Kunci Pembinaan

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jambi, Irwan Rahmat Gumilar, menegaskan sistem pemasyarakatan terhadap anak harus mengedepankan pendekatan humanis. “Anak-anak binaan bukan untuk diberi stigma, melainkan dibimbing agar memiliki kesempatan kedua. Pembinaan yang berkualitas, dukungan keluarga, serta sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci dalam membentuk masa depan mereka,” tegasnya.

Acara yang dihadiri oleh jajaran Forkopimda Kabupaten Batanghari dan para kepala UPT Pemasyarakatan se-Jambi ini juga dimeriahkan dengan penyerahan hadiah lomba bagi anak binaan. Lomba tersebut digelar untuk menumbuhkan rasa percaya diri, kreativitas, dan semangat berkarya selama menjalani masa pembinaan.

“Kami Ingin Buktikan Bisa Jadi Anak yang Membanggakan”

ABS, salah seorang perwakilan anak binaan, mengaku momen sungkeman menjadi titik balik dalam hidupnya. “Hari ini menjadi momen yang sangat berarti bagi kami. Kami merasa masih diperhatikan, disayangi, dan diberikan kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Bertemu dan bersujud kepada orang tua membuat kami semakin sadar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama,” ungkapnya dengan suara bergetar.

Ia berjanji akan membuktikan bahwa dirinya dan teman-temannya bisa menjadi anak yang membanggakan keluarga dan berguna bagi masyarakat setelah kembali ke lingkungan sosial.

Reporter: Syamsudin Rasyid
Sumber: bitnews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top