IHSG Ditutup Menguat 0,91 Persen di Tengah Sikap Wait and See Jelang RDG BI Pekan Ini

Penulis: Ahmad Syukri  •  Senin, 20 Juli 2026 | 22:33:31 WIB
IHSG ditutup menguat 0,91 persen ke level 6.231,78 pada perdagangan Senin.
6.231,78 pada perdagangan Senin. Penguatan terjadi di tengah sikap wait and see pelaku pasar menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21-22 Juli 2026. ISI:

JAKARTA — Pasar saham domestik membuka pekan ini dengan catatan positif. IHSG bertahan di zona hijau sejak sesi pertama hingga penutupan. Indeks LQ45 juga naik 5,84 poin atau 0,94 persen ke posisi 627,75.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan pergerakan IHSG sepanjang pekan RDG masih diwarnai sikap wait and see. Pelaku pasar tidak hanya menanti keputusan suku bunga, tetapi juga mencermati arah kebijakan ke depan — terutama stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi, dan prospek arus modal asing.

Pasar Lebih Sensitif terhadap Sinyal BI daripada Besaran Suku Bunga

Menurut Hendra, dalam kondisi ini pasar lebih sensitif terhadap sinyal atau forward guidance yang disampaikan Bank Indonesia dibandingkan besaran suku bunga itu sendiri. “Selama BI tetap mengedepankan keseimbangan antara stabilitas rupiah dan pertumbuhan ekonomi, reaksi pasar cenderung positif. Sebagian besar ekspektasi telah diperhitungkan investor,” ujarnya.

Namun, Hendra mewaspadai potensi sinyal pengetatan moneter yang lebih agresif. Tekanan jangka pendek terhadap IHSG masih mungkin terjadi, terutama pada sektor yang sensitif terhadap suku bunga. Meski demikian, langkah tersebut bisa dipandang positif karena memperkuat kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

BI Rate Saat Ini di Level 5,75 Persen

Pertemuan RDG BI pekan ini akan menentukan arah kebijakan BI-Rate yang saat ini berada di level 5,75 persen. Sepanjang 2026, BI telah menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali dengan total 100 basis poin (bps).

Hendra memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang 6.000 hingga 6.300 sepanjang pekan RDG, dengan level 6.500 sebagai area penopang penting. Ia menambahkan, kenaikan suku bunga BI tidak selalu menjadi sentimen negatif bagi pasar saham. “Dalam kondisi tertentu, langkah itu justru dipandang sebagai upaya menjaga stabilitas makroekonomi, sehingga mampu meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia di mata investor asing,” jelasnya.

Sembilan Sektor Menguat, Teknologi dan Kesehatan Melemah

Secara sektoral, sembilan dari sebelas sektor di IDX-IC tercatat menguat. Sektor industri memimpin dengan kenaikan 3,23 persen, disusul energi naik 2,55 persen, dan barang baku naik 1,79 persen. Dua sektor yang melemah adalah teknologi (turun 0,63 persen) dan kesehatan (turun 0,19 persen).

Saham dengan penguatan harga terbesar antara lain KOKA, KBLV, AGAR, HOPE, dan ECII. Sementara itu, saham yang mengalami pelemahan harga terbesar adalah AIMS, BAPA, PRDL, JELI, dan RMKE.

Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 2.362.000 kali transaksi, dengan volume saham mencapai 30,19 miliar lembar senilai Rp17,11 triliun. Sebanyak 421 saham naik, 220 saham menurun, dan 324 saham stagnan.

Prospek IHSG hingga Akhir 2026: Volatil Tapi Masih Menjanjikan

Untuk prospek hingga akhir 2026, Hendra menilai peluang IHSG masih cukup menjanjikan meskipun volatilitas diperkirakan tetap tinggi. Arah pergerakan pasar tidak hanya ditentukan oleh kebijakan BI, tetapi juga dipengaruhi keputusan suku bunga The Fed, perkembangan geopolitik global, stabilitas nilai tukar rupiah, harga komoditas, serta kinerja laba emiten.

Sementara itu, bursa saham regional Asia sore ini mencatat pergerakan beragam. Indeks Shanghai menguat 0,85 persen ke 3.796,28. Indeks Hang Seng melesat 2,36 persen ke 25.143,05. Sedangkan indeks Kospi melemah 4,46 persen ke 6.516,27, dan indeks Strait Times turun tipis 0,20 persen ke 5.498,23.

Reporter: Ahmad Syukri
Sumber: jambi.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top