Bulog dan Perpadi Targetkan Olah 2 Juta Ton Beras Cadangan Pemerintah Jadi Premium

Penulis: Rizal Hamdani  •  Selasa, 14 Juli 2026 | 09:56:31 WIB
Bulog dan Perpadi menargetkan pengolahan dua juta ton beras cadangan pemerintah menjadi beras premium tahun ini.

JAMBI — Kolaborasi ini menjadi strategi baru Bulog dalam mengelola stok beras negara. Selama ini, CBP lebih banyak disalurkan untuk program bantuan pangan. Kini, sebagian besar cadangan tersebut akan "dinaikkan kelas" menjadi beras premium yang bisa bersaing di pasar ritel modern maupun tradisional.

Direktur Utama Bulog, Bayu Krisnamurthi, mengatakan kerja sama dengan Perpadi merupakan bagian dari upaya memperkuat rantai pasok beras nasional. "Dengan kapasitas penggilingan anggota Perpadi yang tersebar di seluruh Indonesia, kami optimistis target 2 juta ton bisa tercapai tahun ini," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (15/4).

Skema Pengolahan dan Target Pasar

Proses pengolahan CBP menjadi beras premium tidak hanya melibatkan pemolesan ulang. Bulog dan Perpadi akan menerapkan standar mutu tertentu, termasuk kadar air, butir patah, dan derajat sosoh yang sesuai dengan SNI beras premium.

Beras yang sudah diolah akan dijual dengan merek komersial Bulog. Harganya dipatok lebih rendah dari harga eceran tertinggi (HET) beras premium di pasaran, yang saat ini berkisar Rp 13.900–14.900 per kilogram tergantung wilayah.

Ketua Umum Perpadi, Sutarto Alimoeso, menambahkan bahwa keterlibatan penggilingan swasta akan mempercepat distribusi. "Kami punya 15.000 unit penggilingan padi tersebar dari Aceh hingga Papua. Ini bisa menjadi ujung tombak Bulog untuk menjangkau petani dan konsumen secara langsung," jelasnya.

Dampak ke Petani dan Harga Gabah

Skema ini juga dirancang untuk menyerap gabah petani saat panen raya yang biasanya membuat harga jatuh. Dengan adanya permintaan tetap dari Bulog untuk diolah menjadi beras premium, petani diharapkan mendapat harga gabah di atas biaya produksi.

Sepanjang 2024, Bulog telah menyerap sekitar 1,2 juta ton gabah dari petani. Target 2 juta ton untuk program pengolahan premium ini berarti akan ada tambahan serapan yang signifikan, terutama di sentra produksi seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Bagi konsumen, kehadiran beras premium Bulog di pasaran diharapkan bisa menekan harga beras medium yang belakangan cenderung naik. "Kami ingin masyarakat punya alternatif beras berkualitas dengan harga wajar, bukan karena spekulasi pedagang," tegas Bayu.

Tantangan Distribusi dan Logistik

Meski targetnya ambisius, Bulog mengakui masih ada pekerjaan rumah pada sisi distribusi. Tidak semua daerah memiliki akses mudah ke penggilingan berstandar premium. Untuk itu, Perpadi akan memprioritaskan penggilingan yang sudah memiliki sertifikasi mutu.

Selain itu, Bulog juga akan membangun gudang penyangga di titik-titik strategis agar beras premium bisa segera dikirim ke pasar setelah diolah. Langkah ini sekaligus memangkas rantai distribusi yang selama ini membuat harga beras di tingkat konsumen lebih mahal dari harga di penggilingan.

Dengan kolaborasi ini, Bulog tak hanya menjalankan fungsi stabilisasi harga, tapi juga mulai masuk ke ranah komersial secara lebih agresif. Jika berhasil, model bisnis ini bisa menjadi cetak biru pengelolaan cadangan pangan negara di masa depan.

Reporter: Rizal Hamdani
Sumber: ekonomi.republika.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top