JAMBI — Dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi di kantor Kemendagri, Senin (13/7), Tito mengingatkan bahwa meskipun inflasi tahunan 3,34 persen tergolong aman, tren kenaikan bulanan perlu diwaspadai. Inflasi month-to-month pada Juni 2026 terhadap Mei 2026 tercatat sebesar 0,44 persen.
"Kita tentu perlu banyak berusaha agar jangan sampai menyentuh angka 3,5 persen. Karena memberatkan masyarakat terutama desil 1 sampai desil 4 itu akan terasa," ujar Tito dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi.
Dari sisi komoditas, tekanan inflasi bulanan Juni paling besar berasal dari kelompok transportasi. Kenaikan harga bensin dan tarif angkutan udara menjadi penyumbang utama. Sektor pangan juga ikut mendorong laju inflasi, dengan komoditas bawang merah, bawang putih, minyak goreng, dan beras mencatat kenaikan harga.
"Dalam skala yang lebih kecil adalah beras. Belum gawat, belum pada posisi yang serius, tapi perlu kita waspadai," kata Tito.
Kewaspadaan ekstra disorotkan kepada daerah-daerah yang mencatat kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) signifikan. Secara provinsi, lonjakan IPH tertinggi terjadi di Papua Tengah sebesar 1,91 persen. Sementara itu, di tingkat kabupaten/kota, Kabupaten Deiyai mengalami kenaikan IPH paling tajam hingga 8,89 persen.
"Tolong nanti rekan-rekan kepala daerah atau yang mewakili disampaikan ke kepala daerah untuk lakukan langkah-langkah [pengendalian], terutama yang tinggi-tinggi [angka IPH]," perintah Tito.
Mendagri meminta daerah yang mengalami lonjakan IPH untuk segera menggelar operasi pasar dan memastikan rantai distribusi barang berjalan lancar. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok desil 1 hingga 4 yang paling rentan terdampak gejolak harga pangan dan energi.
Pemerintah pusat sendiri menargetkan inflasi nasional sepanjang 2026 berada di kisaran 2,5 persen hingga 3,5 persen. Dengan inflasi year-on-year Juni yang sudah mencapai 3,34 persen, ruang gerak untuk menjaga target di sisa tahun semakin sempit.