JAMBI — Dulu, membeli OnePlus terasa seperti menjadi bagian dari klub eksklusif. Sistem undangan (invite system) yang diterapkan pada seri OnePlus One (2014) menciptakan hype dan rasa "terpilih" bagi para penggemar teknologi. Namun, formula yang sukses di kalangan enthusiast itu ternyata menjadi bumerang ketika perusahaan harus berebut pembeli mainstream.
OnePlus dibangun di atas pundak komunitas penggemar yang vokal. Mereka adalah pembeli yang paham detail teknis seperti refresh rate layar, jenis panel OLED, hingga kecepatan charging. Masalahnya, kelompok ini sangat kecil. Menurut analisis internal yang dikutip dari video ulasan tersebut, basis penggemar yang solid justru menyulitkan OnePlus saat ingin melakukan ekspansi tanpa mengkhianati identitas awalnya.
Sementara itu, pasar ponsel global didominasi oleh "pembeli rata-rata" yang tidak peduli pada ROM kustom atau kernel. Mereka hanya ingin ponsel yang mudah didapatkan di toko operator, dengan layanan purna jual yang jelas. Di sinilah OnePlus gagal bertransformasi.
Salah satu faktor paling kritis adalah ketidakmampuan OnePlus membangun kemitraan jangka panjang dengan operator seluler. Di Amerika Serikat, lebih dari 90% penjualan ponsel premium terjadi melalui kontrak dan program cicilan dari tiga operator utama: T-Mobile, Verizon, dan AT&T.
OnePlus sempat menggandeng T-Mobile, tetapi tanpa anggaran pemasaran raksasa seperti milik Apple atau Samsung, kerja sama itu perlahan meredup. Akibatnya, pangsa pasar OnePlus di AS praktis hanya berupa "remah-remah" yang tersisa setelah persaingan sengit antara Apple, Samsung, Motorola, dan Google Pixel.
Strategi awal OnePlus memang cemerlang: menawarkan prosesor Snapdragon generasi terbaru, layar 90 Hz (yang saat itu revolusioner), dan teknologi pengisian cepat Dash Charge — semuanya dengan harga setengah iPhone. Namun, keunggulan first-mover ini lenyap dalam hitungan tahun.
Xiaomi, Realme, bahkan Vivo dan Oppo (masih satu induk dengan OnePlus di bawah BBK Electronics) langsung meniru resep yang sama. Pasar mid-range dan upper-mid-range tiba-tiba dipenuhi ponsel dengan spesifikasi gahar. OnePlus bukan lagi satu-satunya pilihan bagi pemburu performa dengan budget terbatas.
Untuk mempertahankan harga disruptif di awal, OnePlus melakukan pengorbanan besar: sensor kamera murah, tanpa pengisian daya nirkabel, dan tanpa sertifikasi tahan air IP68. Ini adalah trade-off yang bisa diterima para enthusiast.
Masalah muncul ketika OnePlus ingin merangkul pasar yang lebih luas. Perusahaan terpaksa menambahkan fitur-fitur premium tersebut, termasuk kemitraan multi-juta dolar dengan Hasselblad untuk urusan kamera. Konsekuensinya, harga jual meroket. Ponsel OnePlus kini dibanderol tidak jauh berbeda dengan Samsung Galaxy S-series atau iPhone, namun tanpa ekosistem dan layanan purna jual yang setara.
Akibatnya, basis penggemar lama merasa dikhianati karena harga naik drastis, sementara pembeli baru tidak melihat alasan kuat untuk memilih OnePlus dibanding merek yang sudah mapan.
Di Indonesia, nasib OnePlus tidak jauh berbeda. Merek ini sempat populer di kalangan komunitas teknologi, tetapi kalah agresif dalam distribusi offline dan pemasaran massal dibandingkan Xiaomi, vivo, atau Oppo. Ketiadaan pusat layanan resmi yang luas juga menjadi kendala.
Kisah OnePlus adalah pengingat bahwa menjadi "idola komunitas" tidak otomatis menjamin kesuksesan komersial. Tanpa jaringan operator yang kuat, strategi pemasaran yang masif, dan kemampuan untuk terus berinovasi di tengah persaingan harga yang ketat, gelar "flagship killer" hanya akan menjadi kenangan manis di forum-forum diskusi.