TEHERAN — Iran belum berencana duduk satu meja dengan Amerika Serikat untuk membahas gencatan senjata. Sumber yang dekat dengan tim perunding Iran menyatakan bahwa tidak akan ada negosiasi sampai Washington mengubah sikapnya. Fars tidak merinci perubahan seperti apa yang diharapkan Teheran dari pemerintahan Donald Trump.
Di sisi lain, jurnalis Axios Barak Ravid melaporkan bahwa Washington menuntut Iran mengakui Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional. Amerika Serikat juga meminta Iran berkomitmen menghentikan serangan terhadap kapal-kapal komersial paling lambat Sabtu.
Di tengah ketegangan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tiba di Oman untuk melakukan pembicaraan mengenai situasi di Selat Hormuz. Langkah ini dilakukan setelah pasukan AS melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran pada Selasa (7/9) malam hingga Rabu (8/7) dini hari.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut serangan itu sebagai balasan atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz. Namun, Iran membalas dengan melancarkan serangan terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran sudah tidak berlaku lagi. Teheran menuduh Washington melanggar nota kesepahaman mengenai penghentian permusuhan.
Reuters, Jumat (10/7), mengutip pejabat AS melaporkan bahwa kesepakatan mengenai program nuklir Iran akan mewajibkan Teheran menyerahkan persediaan uranium yang diperkaya hingga tingkat tinggi. Jika tidak, Amerika Serikat disebut memiliki opsi militer untuk memastikan persediaan uranium tersebut tetap terkubur di bawah tanah.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sepertiga perdagangan minyak dunia. Ketegangan antara Iran dan AS di kawasan ini terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir, memicu kekhawatiran akan konflik terbuka yang lebih luas.