JAMBI — KAI tak ingin sendiri dalam perjalanan panjang menuju nol emisi karbon. Perusahaan pelat merah ini mengakui, biaya untuk mengganti lokomotif diesel, mengelola limbah, hingga mengadopsi energi baru terbarukan (EBT) membutuhkan suntikan dana yang jumbo.
VP Sustainability PT KAI, Tria Mutiari Melian, menyatakan pihaknya kini aktif menjajaki kolaborasi dengan pemerintah, lembaga pendanaan, hingga sektor swasta. Ia menekankan, keterbukaan peta jalan dekarbonisasi ke publik dilakukan agar calon mitra bisa melihat peluang investasi yang terukur.
"Semuanya ini bisa membuka peluang kolaborasi," ujar Tria dalam acara Media Briefing Strategi Kemitraan Iklim dan Dekarbonisasi Perkeretaapian Nasional, Kamis (11/6/2026).
Di sisi lain, uji coba nyata dekarbonisasi KAI sudah berjalan. Pada Senin (27/4/2026), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama KAI memulai uji coba perdana di dunia untuk biodiesel B50 pada kereta api.
Uji coba ini dilakukan di dua titik. Pertama, pada generator daya rangkaian kereta (genset) di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta, yang akan menempuh perjalanan ke Jakarta dengan total durasi uji 2.400 jam. Kedua, pada lokomotif di jalur Surabaya-Jakarta yang akan berlangsung selama enam bulan, hingga Oktober 2026.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyebut uji coba ini sebagai tonggak sejarah. "Ini uji yang sangat penting. Pertama di dunia, hanya ada di sini," ungkapnya di Pengawas Urusan Kereta Api (PUK) Lempuyangan, Yogyakarta.
KAI tidak bergerak sendiri dalam uji coba ini. Direktur Pengelola Sarana dan Prasarana PT KAI, Heru Kuswanto, menjelaskan bahwa pihaknya berkolaborasi dengan Kementerian ESDM dan Lemigas.
Mereka mengevaluasi performa mesin lokomotif dan genset saat dibebani tinggi menggunakan B50 dibandingkan B30. Uji terap dilakukan pada kereta pembangkit P02411 KA Bogowonto dengan tipe engine MTU1212B kapasitas 660 kVa, serta lokomotif CC206-1512 di Depo Lokomotif Sidotopo, Surabaya.
"KAI berkolaborasi dengan Kementerian ESDM dan Lemigas untuk mengevaluasi performa mesin lokomotif dan juga generator genset saat beban tinggi menggunakan B50 dibandingkan B30," tutur Heru.
Keberhasilan uji coba B50 ini diharapkan menjadi bukti bahwa kereta api Indonesia siap memimpin transisi energi di sektor transportasi. Jika hasilnya positif, langkah ini akan memangkas emisi secara drastis sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, membuka jalan bagi target NZE yang lebih realistis dan terukur.