MUARO JAMBI — Gubernur Jambi Al Haris menekankan peran strategis mahasiswa dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di ekosistem gambut. Ia menyebut, selama ini agenda pencegahan seolah-olah hanya dilakukan pihak tertentu, padahal anak-anak muda di kampus juga bisa menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
"Selama ini kita merasakan agenda pencegahan karhutla seolah-olah hanya dilakukan oleh pihak tertentu, padahal ada anak-anak kita, para mahasiswa, yang juga terlibat langsung di masyarakat," ujar Al Haris saat menjadi pemateri di kuliah umum di Universitas Jambi, Rabu.
Mahasiswa punya akses langsung ke desa
Al Haris menjelaskan, mahasiswa memiliki keunggulan karena bersentuhan langsung dengan warga. Banyak dari mereka yang turun ke desa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), praktik lapangan, atau saat pulang ke kampung halaman masing-masing.
"Pencegahan tidak cukup hanya dengan kesiapan petugas di lapangan. Edukasi kepada masyarakat justru langkah penting agar kebakaran bisa dicegah sejak awal," tambahnya.
Dampak karhutla: dari ISPA hingga gangguan transportasi
Gubernur mengingatkan bahwa karhutla membawa dampak luas. Asap kebakaran bisa menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), menghambat aktivitas sekolah, hingga mengganggu transportasi udara dan darat.
Ia juga menyoroti pentingnya pemahaman tentang gambut. Lahan gambut sering dianggap tidak bermanfaat, padahal memiliki peran besar sebagai penyimpan karbon dan penyangga ekosistem.
Modul gambut sudah masuk kurikulum SMA dan SMK
Pemerintah Provinsi Jambi sebelumnya telah meluncurkan modul pembelajaran tentang hutan gambut untuk siswa SMA dan SMK. Modul itu menjadi bagian dari upaya menanamkan pemahaman tentang pentingnya gambut sejak dini.
Al Haris berharap kuliah umum ini menjadi langkah awal untuk menyatukan persepsi antara pemerintah, perguruan tinggi, mahasiswa, dan masyarakat dalam mencegah karhutla.
Memadamkan api di gambut: butuh hari, bukan jam
"Kalau sudah terjadi kebakaran, luar biasa sulit memulihkannya. Kadang-kadang berhari-hari api di gambut baru bisa dipadamkan. Jangkauannya jauh, SDM terbatas, alat juga terbatas," kata Al Haris.
Ia menegaskan bahwa pencegahan jauh lebih baik dibandingkan penanganan saat api sudah membesar. Titik api di kawasan gambut bisa berada jauh di dalam hutan dan sulit dijangkau, membuat proses pemadaman menjadi sangat berat.