Pencarian

Waterfront Research Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh 5,33% di Kuartal III-2026

Rabu, 04 November 2026 • 14:05:31 WIB
Waterfront Research Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh 5,33% di Kuartal III-2026
Analis Waterfront Research Team, Raffi Hemas, memaparkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,33 persen pada kuartal III-2026.

JAMBI — Waterfront Research memperkirakan produk domestik bruto Indonesia tumbuh 5,33 persen secara tahunan pada kuartal III-2026, lebih tinggi dari realisasi 5,29 persen di kuartal sebelumnya. Proyeksi itu bertumpu pada ekspansi kredit investasi 23,2 persen dan realisasi investasi Rp528,7 triliun. Lembaga riset ini menilai permintaan domestik masih jadi penopang utama, meski kinerja ekspor tertinggal jauh dari impor.

Angka proyeksi Waterfront Research juga melampaui capaian periode yang sama tahun lalu sebesar 5,04 persen. Dalam laporan Economic Notes yang dirilis Rabu (4/11/2026), tim riset lembaga tersebut menilai percepatan terjadi karena penyerapan belanja pemerintah dan investasi berjalan solid sepanjang kuartal ketiga.

Analis Waterfront Research Team, Raffi Hemas, menyebut derasnya penyaluran kredit perbankan sebagai sinyal penguatan sektor riil. Kredit investasi tercatat melonjak 23,2 persen secara year-on-year, sementara realisasi investasi kuartal III-2026 menembus Rp528,7 triliun atau naik 7,6 persen dibanding periode sama 2025.

Belanja Pemerintah dan Konsumsi Rumah Tangga Jadi Bantalan

Dari sisi fiskal, penyerapan belanja negara hingga September 2026 mencapai Rp2.660,5 triliun, tumbuh 19 persen (yoy) atau setara 69,2 persen dari total pagu. Defisit anggaran tetap terkendali di level 1,24 persen terhadap PDB.

"Permintaan domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Belanja pemerintah dan investasi memberikan kontribusi penting, sementara konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap tumbuh moderat di kisaran 5 persen," kata Raffi dalam laporan tersebut.

Ruang fiskal yang tersisa sekitar 30,8 persen dari pagu, ditambah stimulus akhir tahun yang diperkirakan mencapai Rp31 triliun, dinilai cukup menahan laju permintaan domestik pada kuartal IV-2026. Konsumsi rumah tangga sendiri diperkirakan bergerak moderat di kisaran 5 persen.

Impor Melonjak 19,84 Persen, Ekspor Hanya Naik 4,74 Persen

Tekanan justru datang dari kinerja perdagangan internasional. Sepanjang Januari–Agustus 2026, impor melonjak 19,84 persen, jauh melampaui pertumbuhan ekspor yang hanya 4,74 persen. Imbal hasil bersih ekspor belum memberi akselerasi tambahan bagi PDB.

Di sisi lain, sektor manufaktur menunjukkan daya tahan. Indeks Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur naik ke level ekspansif 54,0 pada Oktober 2026. Kombinasi variabel itu membuat Waterfront Research memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 stabil di kisaran 5,3 persen.

BI Rate Diprediksi Bertahan 5,75 Persen hingga Akhir Tahun

Bank Indonesia diperkirakan menjaga BI Rate di level 5,75 persen hingga penutupan 2026. Kebijakan itu dinilai konsisten menopang momentum ekspansi perbankan, dengan pertumbuhan kredit secara umum masih berada di kisaran 13,26 persen (yoy).

Otoritas moneter tetap memantau volatilitas eksternal, terutama pergerakan kurs rupiah dan arah suku bunga Federal Reserve. Apabila The Fed kembali menaikkan suku bunga pada Desember dan rupiah menembus Rp18.500 per dolar AS, ruang kenaikan BI Rate 25 basis poin menjadi 6,00 persen terbuka.

IHSG Koreksi 41,5 Persen, Asing Net Sell Rp94,87 Triliun

Di pasar modal, IHSG tercatat terkoreksi 41,5 persen secara year-to-date ke posisi 5.057, dibarengi aksi jual bersih pemodal asing senilai Rp94,87 triliun. Waterfront Research menegaskan tekanan bursa lebih dipengaruhi dinamika tata kelola pasar seiring wacana reklasifikasi indeks MSCI, bukan pemburukan fundamental ekonomi.

"Volatilitas pasar saham berpotensi berlanjut hingga proses konsultasi MSCI berakhir pada 30 April 2027. Percepatan reformasi terkait free float dan keterbukaan kepemilikan saham menjadi faktor penting untuk memperbaiki persepsi investor terhadap pasar modal Indonesia," papar Raffi.

Kondisi berkebalikan terjadi pada Surat Berharga Negara. Kepemilikan dana asing pada instrumen utang pemerintah tumbuh 4,77 persen (ytd) hingga Rp921,96 triliun, mencerminkan kepercayaan investor terhadap kredibilitas fiskal. Meski begitu, yield SBN tenor 10 tahun merangkak naik ke level 7,67 persen, menyelaraskan pergerakan US Treasury.

Risiko Harga Minyak di Atas 100 Dolar AS

Pemerintah diminta waspada terhadap dinamika pasar komoditas global. Ketidakpastian harga minyak mentah dunia yang berpotensi melampaui 100 dolar AS per barel dapat membengkakkan beban subsidi energi. Bila itu terjadi, prioritas belanja negara berisiko bergeser dari sektor-sektor produktif.

Bagi investor, proyeksi ini memberi gambaran bahwa obligasi negara masih jadi instrumen yang diburu asing, sementara pasar saham menunggu kejelasan reformasi tata kelola sebelum tekanan jual mereda.

Follow jambitime.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekonomi.tvrinews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks