MENDALO — Sosialisasi yang digelar Kamis, 29 Oktober 2026, itu menghadirkan dua narasumber: Deva Primadia Almada dari IPB University dan Rio Dezaneru, Ketua Umum Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Kepala LPPM UNJA, Prof. Amirul Mukminin, turut hadir bersama dosen, peneliti, dan pelaku UMKM setempat.
Apa Saja Layanan yang Ditawarkan IBT UNJA
Koordinator Pusat Studi IBT, Eko Prasetyo, menjelaskan bahwa program kerja lembaganya mencakup pelatihan, pameran, hingga pendampingan usaha. Layanan itu menyasar mahasiswa, dosen, dan pelaku UMKM, baik yang sudah berjalan maupun yang belum memiliki bisnis.
"IBT memberikan pendampingan dan inkubasi bisnis kepada mahasiswa, dosen, serta pelaku UMKM, baik yang sudah memiliki usaha maupun yang belum memiliki bisnis. Pendampingan ini menjadi salah satu upaya untuk membantu mereka dalam mengembangkan usaha," ujar Eko.
Rekomendasi untuk P2MW dan PKM
IBT juga memberi rekomendasi bagi mahasiswa yang mengikuti kompetisi kewirausahaan seperti Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Lewat jalur itu, mahasiswa didorong membaca peluang bisnis dan mengelola usaha secara lebih terarah.
Sabun Cuci hingga Hair Tonic di Meja Pameran
Pameran menyertai sosialisasi tersebut. Produk mahasiswa dan inovasi dosen UNJA dipajang, antara lain sabun cuci dan hair tonic untuk rambut. Sejumlah pelaku UMKM juga telah bergabung sebagai tenant IBT dan akan menerima pelatihan serta pendampingan pada tahap berikutnya.
"Harapannya, melalui program dan pendampingan yang diberikan, mahasiswa, dosen, serta pelaku UMKM dapat lebih memahami peluang bisnis dan mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan," tambah Eko.
Modal Awal Menuju Usaha Berkelanjutan
Langkah IBT menyasar dua arah sekaligus: pengembangan kewirausahaan di lingkungan perguruan tinggi dan masyarakat sekitar. Hasil karya mahasiswa serta inovasi dosen diperkenalkan agar bisa dimanfaatkan dan dikembangkan lebih lanjut oleh pelaku usaha di Jambi.