JAMBI — Rencana pembangunan jalur kereta api khusus batu bara di Jambi kembali mengemuka setelah bertahun-tahun hanya menjadi wacana. Koridor rel ini dirancang menghubungkan kawasan tambang di wilayah barat, mulai dari Kabupaten Bungo, melintasi Bangko dan Sarolangun, hingga ke Pelabuhan Kemingking di pesisir timur. Tujuannya, mengalihkan truk-truk batu bara dari jalan raya ke moda transportasi rel yang lebih aman dan efisien.
Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi, Ir. H. Ivan Wirata, ST, MM, MT, menegaskan bahwa proyek ini harus menjadi solusi permanen, bukan sekadar proyek tambang biasa. “Kereta api khusus batu bara harus menjadi solusi permanen. Tujuannya bukan sekadar mempercepat distribusi komoditas, tetapi mengurangi kemacetan, menekan kerusakan jalan, meningkatkan keselamatan pengguna jalan, dan menciptakan sistem logistik yang lebih tertata,” tegas Ivan, Senin (22/06/26).
Koridor Rel dari Bungo hingga Kemingking
Berdasarkan matriks pengembangan koridor, wilayah Bungo akan menjadi pusat pengumpulan batu bara dari kawasan produksi barat. Koridor Bungo–Bangko dirancang sebagai penghubung sumber muatan, sementara Sarolangun dipersiapkan sebagai simpul utama konsolidasi dengan pembangunan loading station dan akses khusus.
Selanjutnya, koridor Sarolangun–Batang Hari akan menjadi jalur distribusi utama menuju hilir. Di Muaro Jambi, pemerintah berencana mengembangkan kawasan logistik resmi dan dry port sebelum seluruh angkutan diarahkan ke Pelabuhan Kemingking yang terintegrasi dengan stockpile, conveyor, dan dermaga ekspor.
MTI: Gagasan Sudah Ada Sejak 2017, Realisasi Terlambat
Dukungan terhadap proyek ini datang dari Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Dr. Ir. Muhammadun, ATD. Menurutnya, kebutuhan rel khusus batu bara sebenarnya sudah muncul sejak 2017–2018 saat berbagai kajian koridor dilakukan. “Persoalan yang muncul waktu itu sama seperti sekarang, yakni kemacetan dan kerusakan jalan akibat angkutan batu bara,” ungkap Muhammadun via panggilan WhatsApp.
Ia menilai keterlambatan realisasi proyek menyebabkan persoalan transportasi di Jambi terus berulang dari tahun ke tahun. “Kalau sejak dulu ini dijalankan, mungkin kondisi jalan kita tidak separah sekarang. Ini solusi yang sangat solutif,” katanya.
Manfaat Ekonomi dan Tantangan Pembebasan Lahan
Menurut Ivan, proyek ini tidak hanya akan mengurangi kemacetan truk batu bara di jalan umum, tetapi juga menekan tingkat kerusakan jalan, menurunkan biaya logistik, serta membuka koridor ekonomi baru dari barat hingga timur Jambi. “Jambi harus bergerak dari pola angkutan berbasis truk menuju sistem logistik massal yang modern. Dengan rel yang terhubung langsung ke pelabuhan, biaya distribusi akan lebih kompetitif dan daya saing ekonomi daerah meningkat,” katanya.
Ivan mendorong pemerintah daerah, pusat, investor, dan pelaku usaha untuk mempercepat tahapan pembangunan, termasuk finalisasi trase, studi kelayakan, penyusunan AMDAL, hingga pembebasan lahan. “Yang harus dijaga adalah jangan sampai pembangunan rel hanya memindahkan persoalan dari jalan ke kawasan lain. Terminal muat, stockpile, kawasan logistik, hingga pelabuhan harus dirancang dalam satu sistem yang terintegrasi,” ujarnya.