Video bocoran yang diunggah melalui Weibo pekan ini menunjukkan MagicOS 11 bukan sekadar mengambil inspirasi. Bahasa desain Liquid Glass—yang sebelumnya kontroversial di kalangan penggemar Apple—kini diadopsi secara utuh oleh Honor, melampaui upaya Oppo dengan ColorOS 16 atau Vivo dengan OriginOS 6.
Dalam klip-klip yang beredar di kanal Telegram dan platform media sosial China itu, antarmuka MagicOS 11 memperlihatkan tombol-tombol dengan efek refraksi cahaya dan kilau kaca basah yang identik dengan iOS terbaru. Tidak ada upaya menyamarkan sumber inspirasi.
Strategi “Clone” yang Makin Berani di Kalangan Vendor China
Fenomena ini bukan hal baru di industri ponsel Android. Google sendiri sudah menegaskan bahwa Liquid Glass tidak akan menjadi bagian dari Android murni di perangkat Pixel. Namun, pabrikan asal China—khususnya yang bermain di pasar flagship—justru melihat celah untuk mendekatkan pengalaman pengguna mereka ke ekosistem Apple.
Honor mengambil langkah paling ekstrem. Tidak seperti Oppo yang masih menyisipkan elemen khas ColorOS, MagicOS 11 terlihat seperti tiruan langsung tanpa filter. Efek waterdrop pada tombol notifikasi dan gradasi cahaya yang mengikuti gerakan jari adalah dua contoh paling mencolok.
Magic 8 Series Jadi Kelinci Percobaan Pertama
Uji coba MagicOS 11 saat ini berlangsung di lini Magic 8 series. Perangkat yang masuk daftar pengujian meliputi Magic 8, Magic 8 Pro, Magic 8 Pro Air, dan Magic 8 RSR Porsche Design. Informasi ini dikonfirmasi oleh laporan dari HuaweiCentral yang memantau perkembangan firmware Honor di China.
Belum ada tanggal pasti kapan pembaruan ini akan dirilis secara global. Honor hanya menyebutkan jadwal peluncuran untuk perangkat lain akan menyusul akhir tahun ini. Pengguna di Indonesia yang sudah membeli Magic 8 series kemungkinan harus menunggu lebih lama, mengingat distribusi global Honor masih bertahap.
Dari Tiruan Fisik ke Tiruan Perangkat Lunak
Strategi Honor ini mengikuti jejak pendahulunya, Huawei, yang dulu juga sering meminjam elemen desain iOS. Bedanya, Honor kini bergerak lebih cepat dan lebih terang-terangan. Bagi pengguna yang menginginkan estetika iPhone tetapi tetap ingin fleksibilitas Android, MagicOS 11 menawarkan jalan pintas yang paling literal.
Pertanyaannya, apakah pendekatan ini akan diterima pasar Indonesia? Pengguna lokal selama ini dikenal pragmatis: fitur dan harga lebih diutamakan ketimbang orisinalitas desain. Jika Honor mampu menghadirkan pengalaman "iOS-like" dengan harga lebih murah, tiruan ini bisa saja menjadi nilai jual, bukan aib.