MUARA BULIAN — Selisih harga yang mencapai Rp 3.950 per liter membuat pengguna kendaraan mulai mempertimbangkan ulang jenis BBM yang digunakan. Kiki (27), warga Muara Bulian, mengaku baru mengetahui kenaikan ini dari media sosial pada Rabu lalu.
"Biasanya pakai Pertamax, tapi sekarang coba Pertalite dulu. Selisihnya cukup besar untuk menghemat," ujarnya kepada Antara.
Pertalite Jadi Pilihan Utama, Antrean Mengular
Pantauan di lapangan menunjukkan kontras yang jelas. Jalur pengisian Pertalite dipadati kendaraan roda dua dan roda empat, sementara jalur Pertamax terlihat lengang dan beberapa kali tanpa antrean.
Kiki mengatakan kendaraan merupakan sarana utama untuk bekerja, sehingga kenaikan ini berdampak langsung terhadap biaya operasional harian. Ia berharap harga BBM ke depan bisa lebih stabil.
"Semoga tidak naik lagi, karena kebutuhan sehari-hari juga sudah banyak yang naik," tutupnya.
Dampak Langsung ke Dompet Warga
Kenaikan Pertamax ini bukan sekadar angka di papan harga SPBU. Bagi pengguna seperti Kiki, keputusan beralih ke Pertalite adalah langkah menekan pengeluaran bulanan yang sudah terbebani oleh kenaikan harga kebutuhan pokok.
Belum ada pernyataan resmi dari pihak Pertamina atau pemerintah daerah terkait kebijakan ini. Namun, perubahan perilaku konsumen di Batang Hari sudah terlihat nyata: antrean di jalur Pertalite menjadi indikator bahwa warga tengah beradaptasi dengan harga baru.