Pencarian

Mengapa Masyarakat Melayu Jambi Mengganti Kata “Saya” dengan “Kami” dalam Tutur Sehari-hari

Minggu, 07 Juni 2026 • 14:58:01 WIB
Mengapa Masyarakat Melayu Jambi Mengganti Kata “Saya” dengan “Kami” dalam Tutur Sehari-hari
Masyarakat Melayu Jambi menggunakan kata "kami" sebagai bentuk penghormatan dalam komunikasi sehari-hari.

JAMBI — Dalam tata bahasa Indonesia, “kami” adalah kata ganti orang pertama jamak yang bersifat eksklusif: pembicara dan kelompoknya, tanpa menyertakan lawan bicara. Namun di Jambi, kata yang sama justru lazim dipakai untuk menyebut diri sendiri.

Seorang warga yang berkata “Kami nak pegi melor dulu” bukan sedang mengajak rombongan. Ia hanya berbicara sendirian, tapi memilih “kami” sebagai bentuk penghormatan kepada lawan tuturnya.

Akar Kesantunan di Balik Pilihan Kata

Alasan utama di balik fenomena ini adalah etika dan rasa hormat. Dalam adat Melayu Jambi, menyebut diri dengan “aku” atau “saya” yang terlalu menonjolkan ego dianggap kurang elok, bahkan kasar jika diucapkan kepada orang tertentu.

Kata “kami” dipilih karena mampu meredam keegoisan personal sekaligus meninggikan derajat lawan bicara. Secara psikologis, ini bentuk tawadhu atau merendahkan hati.

Kapan “Kami” Wajib Digunakan?

Penggunaan “kami” sebagai pengganti “saya” tidak sembarangan. Kata ini wajib dipakai saat berbicara dengan orang yang usianya di atas pembicara, seperti orang tua, tokoh adat, atau guru. Memakai “aku” kepada mereka dianggap tidak sopan.

Di forum formal, sidang adat, atau rapat desa yang sakral, “kami” mutlak digunakan oleh pembicara tunggal. Ini menegaskan bahwa apa yang disampaikan bukan sekadar opini pribadi, melainkan penyampaian yang santun dan terukur.

Padanan “Kami” dengan “Sayo”

Dalam praktik sehari-hari, “kami” kerap dipadankan dengan kata “sayo”—dialek lokal dari “saya”. “Sayo” digunakan dalam konteks kasual yang tetap memerlukan batasan sopan santun, misalnya antar rekan kerja setara atau kepada orang baru.

Sementara “kami” menempati kasta kesantunan yang lebih tinggi dan lebih formal, terutama ketika berhadapan dengan sekat usia yang jauh atau otoritas adat. Keduanya menjadi instrumen sosiolinguistik yang menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat Melayu Jambi.

Bagikan
Sumber: jambiseru.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks