JAMBI — Bantahan itu disampaikan Troy dalam Seminar Nasional Public Nations 2026 di Universitas Mulawarman, Samarinda, Sabtu (23/5/2026). Di hadapan mahasiswa dari empat perguruan tinggi di Kalimantan Timur, ia menegaskan bahwa proses pembangunan fisik dan ekosistem di Nusantara berjalan sesuai rencana.
"Tidak benar kalau ada yang bilang IKN mangkrak. Dan, hari ini saya juga tegaskan bahwa tidak benar kalau IKN merusak hutan. Kita memiliki setiap kedeputian yang bertanggung jawab dalam pembangunan, termasuk pengelolaan hutan," ujar Troy dalam forum yang digelar Himpunan Mahasiswa Administrasi Publik FISIP Unmul.
Teknologi Panel Surya dan Gaya Hidup Menanam Pohon
Untuk membuktikan komitmen lingkungan, Troy memaparkan dua kebijakan konkret yang sudah berjalan. Pertama, seluruh gedung di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Nusantara kini disokong listrik dari PLTS berkapasitas sekitar 50 MW. Kedua, Otorita IKN mewajibkan seluruh pegawainya menanam pohon secara rutin.
"Kemarin Jumat (22/05/2026), kami juga baru saja melaksanakan kegiatan penanaman pohon, termasuk pohon endemik Kalimantan," jelas Troy.
Kebijakan itu disebut sebagai bagian dari transformasi gaya hidup insan Otorita IKN. Langkah ini sekaligus menjawab kekhawatiran mahasiswa terkait deforestasi dan degradasi lingkungan di lokasi ibu kota baru.
Peran Akademik: MoDengan Unmul dan Riset Keberlanjutan
Dosen Administrasi Publik FISIP Unmul, Wendy Waldianto, mengungkapkan bahwa telah ada nota kesepahaman (MoU) antara Otorita IKN dengan Universitas Mulawarman. Kerja sama itu mencakup riset dan inovasi untuk memperkuat ekosistem pembangunan berkelanjutan di Nusantara.
"Termasuk melalui peran mahasiswa dalam pembangunan berkelanjutan," kata Wendy dalam materi bertajuk "Penguatan Ekosistem Riset dan Inovasi dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan Nasional".
Forum ini menjadi ruang dialog antara pemerintah, akademisi, dan mahasiswa. Wakil Dekan I Bidang Akademik FISIP Unmul, Rina Juwita, menekankan bahwa diskusi semacam ini bukan sekadar seremonial.
"Kampus itu bukan hanya teori saja, tetapi mengasah rasa kritis. Ini bukan tentang seremonial atau muncul di media sosial saja, tetapi menghadirkan gagasan dan kritik khususnya mahasiswa di Kalimantan Timur," tutup Rina.