JAMBI — UEA menjadi anggota OPEC ketiga terbesar setelah Arab Saudi dan Irak. Dengan keluarnya negara tersebut, OPEC kehilangan sekitar 12 hingga 15 persen kapasitas produksinya. Keputusan ini diumumkan pada 28 April dan mulai berlaku pada 1 Mei, setelah melalui perencanaan matang selama tiga tahun.
Alasan di Balik Keputusan: Musim Gugur Era Hidrokarbon
Penasihat UEA, Anwar Gargash, blak-blakan menyebut bahwa dunia sedang mendekati akhir dari era hidrokarbon. "Jika mampu memproduksi lebih banyak, masuk akal untuk melakukannya sekarang daripada meninggalkan minyak di dalam perut bumi saat nilainya menurun," ujarnya dikutip dari Market Screener, Minggu (24/5/2026).
Pernyataan ini mencerminkan perubahan strategi energi global. UEA menilai bahwa di tengah percepatan transisi energi, nilai minyak bumi akan terus tertekan. Oleh karena itu, mengoptimalkan nilai cadangan minyak nasional menjadi prioritas utama.
Dampak pada Pasar Energi dan OPEC
Keluarnya UEA menandai perubahan signifikan dalam dinamika industri energi global. Sebagai produsen minyak terbesar ketiga di OPEC, keputusan ini tidak hanya mengurangi kapasitas produksi kartel, tetapi juga mengguncang soliditas organisasi yang selama puluhan tahun mendominasi pasar minyak dunia.
Pemerintah UEA menyatakan kebijakan ini merupakan hasil evaluasi strategi produksi nasional jangka panjang. Menteri Energi Suhail Mohamed al-Mazrouei sebelumnya menyebut keputusan itu juga didorong oleh kebutuhan untuk memenuhi permintaan energi global yang terus meningkat.
Mengapa UEA Memilih Jalan Sendiri
Selama ini, UEA kerap berbeda pendapat dengan Arab Saudi, pemimpin de facto OPEC, soal kuota produksi. UEA ingin meningkatkan kapasitas produksi dari 4,2 juta barel per hari menjadi 5 juta barel per hari, namun kerap dibatasi oleh kebijakan OPEC yang menahan produksi demi menjaga harga.
Dengan keluar dari OPEC, UEA kini memiliki keleluasaan penuh untuk memproduksi minyak sebanyak mungkin. Langkah ini dinilai lebih menguntungkan secara ekonomi di tengah prediksi bahwa permintaan minyak akan mencapai puncaknya dalam satu dekade mendatang.
Keputusan UEA keluar dari OPEC menjadi pengingat bahwa era minyak bumi tidak lagi abadi. Negara-negara produsen besar mulai memikirkan ulang strategi energi mereka, sementara dunia terus bergerak menuju sumber energi yang lebih bersih dan terbarukan.