Binance Tutup 90% Aset Curian US$ 6,3 Miliar, Penarikan Dana Dibuka Minggu

Penulis: Syamsudin Rasyid  •  Minggu, 01 November 2026 | 09:06:01 WIB
Bursa kripto Binance menyatakan telah menutupi sekitar 90% nilai aset kripto senilai US$ 6,3 miliar yang dicuri dalam peretasan dompet panas.

JAMBI — Bursa kripto Binance menyatakan telah menutupi sekitar 90% nilai aset kripto senilai US$ 6,3 miliar atau Rp 114,2 triliun yang dicuri dalam peretasan dompet panas. Perusahaan menanggung seluruh dampak finansial lewat dana asuransi dan kas internal, bukan membebankannya ke pengguna. Layanan penarikan dana dijadwalkan kembali dibuka pada Minggu (1/11) setelah pemeriksaan keamanan dan konfirmasi akhir.

Dalam pernyataan resmi pada Sabtu (31/10), Binance menyebut dukungan untuk sekitar 90% nilai aset token yang dicuri telah dipulihkan. Angka itu merujuk pada nilai token yang dijamin, bukan dana yang berhasil direbut kembali dari tangan peretas.

Binance menggunakan sebagian Secure Asset Fund for Users (SAFU), sebagian dana asuransi berjangka (futures), serta kas perusahaan untuk menambah aset yang terdampak. Perusahaan berkomitmen membeli sisa token terdampak melalui pasar dan saluran over-the-counter (OTC) hingga dukungan mencapai 100%.

Sepuluh Aset Utama Sudah Dijamin Penuh

Seluruh aset dalam bentuk Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Tether (USDT), BNB, Solana (SOL), USD Coin (USDC), XRP, USD1, RLUSD, dan Zcash (ZEC) telah dijamin sepenuhnya. Sisa sekitar 10% yang belum sepenuhnya didukung terdiri atas token di luar 10 aset teratas.

Binance beralasan token-token tersebut memiliki likuiditas lebih rendah, sehingga butuh waktu lebih lama untuk diperoleh dalam jumlah yang diperlukan. Perusahaan berjanji menunjukkan kemajuan lewat pelaporan transparan dan tindakan nyata.

"Binance akan menanggung dampak finansial dari dana yang dicuri ini, bukan pengguna kami," demikian pernyataan Binance, seperti dikutip CNBC Internasional, Minggu (1/11).

Pembukaan Penarikan Dana Jadi Tonggak Berikutnya

Binance menyebut pembukaan kembali layanan penarikan dana sebagai tonggak penting setelah insiden peretasan. Layanan itu akan dilanjutkan pada Minggu (1/11) dengan syarat pemeriksaan keamanan dan konfirmasi akhir telah dilakukan.

Investigasi atas penyebab serangan masih berjalan. Binance sebelumnya menduga serangan melibatkan laptop seorang engineer DevOps yang diretas, memungkinkan hacker mengakses kontainer layanan dan mengirim transaksi penarikan tidak sah. Co-CEO Binance Richard Teng kemudian menyatakan serangan melibatkan proses lebih kompleks daripada sekadar penyalahgunaan izin engineer. Binance menolak memerinci perkembangan investigasi.

FBI Serahkan Atribusi ke Korea Utara

Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menyatakan Korea Utara bertanggung jawab atas pencurian tersebut. Pelaku dari Korea Utara disebut mencuci aset kripto hasil curian dengan mengonversinya menjadi Ethereum sebagai persiapan tahap pencucian uang berikutnya.

Perusahaan intelijen blockchain TRM Labs dan Chainalysis juga mengaitkan peretasan Binance dengan kelompok peretas pendukung Korea Utara, TraderTraitor. TRM Labs menyebut sejumlah karakteristik serangan mirip dengan insiden sebelumnya, termasuk peretasan Bybit dan KelpDAO pada April 2026.

Kemiripan itu meliputi penarikan Tornado Cash dalam jumlah kecil untuk mendanai dompet operator, persiapan yang dimulai jauh sebelum pencurian, serta penggunaan tanda tangan yang telah diperoleh sebelumnya lalu dieksekusi dalam satu serangan.

Perlombaan Melawan Waktu Menyamarkan Aset

Perusahaan kripto dan penegak hukum berlomba memulihkan lebih dari US$ 6 miliar aset curian sebelum peretas menyamarkan jejak dana. Para ahli menggambarkan upaya itu sebagai permainan kucing dan tikus dengan hacker yang diduga berasal dari Korea Utara.

"Pada akhirnya, mereka mencoba untuk mengalihkan kripto ke mata uang fiat. Dan itulah tantangannya, semacam perlombaan melawan waktu," kata Kepala Kebijakan Global TRM Labs Ari Redbord dikutip dari CNBC Internasional.

Setelah peretasan, sejumlah penerbit stablecoin bergerak membekukan dana terkait, termasuk Circle sebagai penerbit USDC dan Tether sebagai penerbit USDT. Stablecoin merupakan aset digital yang dirancang mempertahankan nilai terhadap mata uang tertentu, seperti dolar AS.

Bagi pelaku pasar kripto, kepastian dukungan 100% atas token terdampak menjadi sinyal utama sebelum layanan penarikan kembali normal. Penanganan kasus ini juga menjadi ujian kredibilitas mekanisme SAFU di mata investor institusi yang selama ini menimbang risiko penyimpanan aset di bursa terpusat.

Reporter: Syamsudin Rasyid
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top