JAMBI — Sebanyak 52,3% responden riset MarkPlus menjadikan gratis biaya transfer sebagai pertimbangan utama memilih dompet digital, mengalahkan faktor kemudahan transaksi harian. Survei "E-Wallet Research 2026" terhadap 400 responden di berbagai kota Indonesia itu juga menempatkan ShopeePay sebagai merek paling sering dipakai untuk transfer antarbank dan e-wallet. Temuan ini menegaskan bahwa efisiensi biaya kini jadi medan persaingan baru di industri pembayaran digital.
Chief Marketing Officer MCorp Yosanova Savitry menyebut pertimbangan biaya muncul paling kuat pada perilaku transfer dana. Dari 309 responden yang rutin memakai fitur kirim uang, 88% menjadikan gratis biaya transfer sebagai alasan utama.
Angka itu disampaikan Yosanova dalam diskusi daring bersama sejumlah media, Jumat (23/10/2026). "Kalau kita gali lebih lanjut tentang perilaku transfer menggunakan e-wallet, jadi selain mencari efisiensi biaya ketika untuk transfer, kita juga mementingkan kecepatan dan juga fleksibilitas tujuan transfer," ujarnya.
Kecepatan proses transfer menempati urutan kedua dengan 75,1%. Sebanyak 71,2% responden menilai kemampuan mengirim uang ke berbagai rekening bank dan e-wallet lain sebagai faktor penting, sedangkan 65,7% menyoroti kemudahan penggunaan.
Secara keseluruhan, gratis biaya transfer memimpin daftar pertimbangan pemilihan e-wallet dengan 52,3%. Posisi berikutnya ditempati penggunaan untuk transaksi sehari-hari (45,8%) dan kesesuaian layanan dengan kebutuhan (45,5%).
Survei MarkPlus bertajuk "E-Wallet Research 2026: Usage Behavior & QRIS Landscape" melibatkan 400 responden di sejumlah kota. Mayoritas, yakni 90,3%, mengaku sudah memakai e-wallet lebih dari dua tahun.
Fitur transfer ke rekening bank atau e-wallet lain dipakai oleh 77,3% responden. Di kategori ini ShopeePay paling sering digunakan dengan 41,8%, diikuti GoPay 33,7%, dan DANA 17,7%.
Dominasi ShopeePay berlanjut di sisi promosi. Sebanyak 56,8% responden menilai merek tersebut paling gencar menawarkan promo, jauh di atas GoPay (33,5%) dan DANA (4,8%).
Yosanova menilai promosi efektif menarik konsumen mencoba layanan. Meski begitu, penyedia e-wallet diminta tetap menjaga manfaat yang dirasakan pengguna dalam jangka panjang, bukan hanya saat periode kampanye.
Pembelian produk digital menjadi salah satu celah penghematan yang dibidik konsumen. Sebanyak 69% dari seluruh responden memakai dompet digital untuk kebutuhan tersebut.
Dari 276 responden yang rutin membeli produk digital lewat e-wallet, pulsa menjadi pembelian terbesar (80,1%). Paket data internet menyusul di 72,8%, token listrik 61,2%, serta pembayaran tagihan listrik dan air 31,5%.
Dalam memilih platform, 81,9% responden mengutamakan proses cepat dan mudah. Sebanyak 75% memperhatikan rendahnya biaya administrasi, dan 65,6% mempertimbangkan harga kompetitif untuk produk yang dibeli.
Data MarkPlus memperlihatkan basis pengguna e-wallet di Indonesia sudah matang. Setelah lebih dari dua tahun pemakaian, konsumen bergeser dari sekadar mencoba fitur ke menghitung nilai rupiah tiap transaksi.
Bagi penyedia layanan, tekanan datang dari dua arah: menekan biaya transfer agar tetap nol, sekaligus menjaga harga produk digital tetap kompetitif. Pemain yang gagal di salah satu sisi berisiko kehilangan frekuensi transaksi yang menjadi sumber data dan pendapatan.
Bagi investor, metrik yang layak dicermati bukan hanya jumlah pengguna terdaftar, melainkan porsi pengguna aktif yang memakai fitur transfer dan pembelian produk digital berulang. Kombinasi itu menunjukkan kedalaman hubungan pengguna dengan platform, bukan sekadar akuisisi lewat promo.