JAMBI — Pasar Angso Duo bukanlah sekadar tempat membeli sayur, ikan, atau pakaian. Ia adalah pusat denyut ekonomi Kota Jambi yang aktif sejak dini hari hingga petang. Berlokasi di Jalan Sultan Thaha, dekat Sungai Batanghari, keberadaan pasar ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah Jambi sebagai kota dagang. Bagi pengunjung, pasar terbesar di Jambi ini menawarkan pengalaman autentik yang tidak ditemukan di pusat perbelanjaan modern.
Data United Nations ESCAP menegaskan posisi Angso Duo sebagai pasar tradisional terbesar di Jambi. Berdasarkan catatan Badan Pengelola Pasar tahun 2014, luas area pasar mencapai 56.404 meter persegi. Sumber yang sama mencatat adanya 3.202 pedagang yang memperdagangkan sayur, buah, ikan, daging, rempah, sembako, hingga pakaian. Skala ini menegaskan bahwa Angso Duo adalah simpul utama distribusi kebutuhan masyarakat Provinsi Jambi.
Nama Angso Duo berarti "dua angsa" dan berakar dari cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat Jambi. Sebuah sumber kebudayaan lokal mencatat lagu Angso Duo sebagai bagian dari ingatan kolektif warga. Nama itu kemudian melekat kuat pada pusat perdagangan utama kota ini.
Sejarah bangunan modern Pasar Angso Duo ternyata lebih panjang dari yang terlihat sekarang. Penelitian menyebutkan pasar berdiri sejak 1974 dalam bentuk yang dikenal sebagai pasar tradisional terbesar di Kota Jambi. Namun, aktivitas dagang di kawasan tersebut memiliki akar yang lebih tua, di mana catatan sejarah lokal menyebut kawasan perdagangan lama sempat berpindah-pindah mengikuti perkembangan kota.
Revitalisasi menjadi babak penting dalam perjalanan Angso Duo. Pasar lama pernah dikenal sangat ramai, namun menghadapi persoalan kepadatan dan aktivitas pedagang yang meluber ke jalan. Rencana pembangunan pasar pengganti telah digagas pemerintah sejak sekitar 2010 dengan tujuan mempertahankan fungsi tradisional sekaligus meningkatkan aspek keamanan dan kenyamanan.
Pasar baru kemudian hadir dengan konsep semi-modern. Penataan ruang dibuat lebih terstruktur sehingga jenis komoditas ditempatkan dalam zona tertentu. Penelitian mencatat bahwa Pasar Angso Duo Baru resmi diresmikan pada 2018 dan dikembangkan sebagai pasar dengan fasilitas yang lebih terorganisasi.
Kekuatan Angso Duo tidak hanya bertumpu pada luas bangunan, melainkan pada jaringan ekonomi yang menggerakkannya. Sayur yang tiba di pagi hari, ikan yang dibawa pedagang, beras, rempah, hingga kebutuhan rumah tangga, semuanya bergerak melalui jaringan pemasok dan pedagang. Pasar ini adalah ekosistem yang dihidupkan oleh pedagang kios, pedagang los, pedagang kaki lima, buruh angkut, pengemudi angkutan, tukang ojek, petugas parkir, petugas kebersihan, hingga pembeli rumah tangga.
Sebuah penelitian mengungkap peran besar perempuan dalam aktivitas perdagangan. Disebutkan bahwa sekitar 85 persen aktivitas perdagangan dalam konteks yang ditelitinya didominasi oleh perempuan. Penelitian Universitas Batanghari periode 1974–2018 menunjukkan bahwa pasar tradisional menjadi ruang ekonomi penting bagi perempuan, yang tidak hanya berperan sebagai pedagang tetapi juga menjalankan tanggung jawab rumah tangga. Di balik lapak yang tampak sederhana, terdapat keluarga yang bergantung pada penghasilan harian untuk biaya sekolah dan kebutuhan rumah.
Data ESCAP mencatat aktivitas operasional Angso Duo berlangsung setiap hari dengan rentang waktu yang panjang, sekitar pukul 22.00 hingga 18.00. Waktu terbaik untuk berkunjung bergantung pada tujuan pengunjung. Bagi yang ingin melihat aktivitas bongkar muat sayur dan bahan pangan, datanglah sangat pagi untuk menyaksikan proses barang masuk dan pedagang menata dagangan. Sementara itu, mereka yang ingin berburu kebutuhan harian dengan suasana lebih longgar bisa datang setelah aktivitas awal mereda.
Etika berbelanja di pasar tradisional memiliki teknik tersendiri. Harga antar pedagang bisa berbeda, sehingga membandingkan harga sebelum membeli adalah langkah yang berguna. Pengunjung disarankan untuk menentukan barang yang ingin dibeli, melihat beberapa kios terlebih dahulu, bertanya harga dengan sopan, membandingkan kualitas, dan menegosiasikan harga secara wajar. Tawar-menawar sebaiknya dilakukan dengan bijak karena pasar tradisional hidup dari hubungan jangka panjang antara pedagang dan pembeli.
Keunggulan lain Angso Duo adalah lokasinya yang berada di kawasan pusat Kota Jambi, berdekatan dengan Sungai Batanghari. Sebuah kajian menyebut pasar ini berlokasi di Jalan Sultan Thaha, Kecamatan Pasar Jambi, dan menjadi pusat perdagangan serta distribusi barang di wilayah tersebut. Kedekatan dengan berbagai objek kota memungkinkan kunjungan ke pasar digabungkan dengan wisata sejarah dan perkotaan.
Penelitian mengenai kawasan Angso Duo mencatat beberapa tempat yang dapat dikunjungi dalam satu rangkaian perjalanan, antara lain Tanggo Rajo untuk menikmati suasana tepian Sungai Batanghari, Museum Perjuangan Rakyat Jambi bagi yang tertarik sejarah daerah, Masjid Agung Al-Falah sebagai landmark keagamaan penting, serta kawasan pusat kota untuk melanjutkan wisata kuliner atau belanja. Penelitian tersebut juga mencatat kedekatan pasar dengan kawasan WTC Batanghari.
Sebuah penelitian tahun 2023 mengenai Angso Duo menegaskan peran pasar tersebut sebagai pasar induk dan pasar terbesar di Provinsi Jambi. Tarikan perjalanan yang sangat besar membuat orang datang bukan hanya dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari jaringan perdagangan yang menghubungkan Kota Jambi dengan daerah lainnya.
Modernisasi membawa manfaat sekaligus tantangan bagi pasar tradisional. Bangunan yang lebih tertata dapat meningkatkan kenyamanan, kebersihan, dan keamanan, namun karakter pasar tradisional tidak boleh hilang. Rencana revitalisasi Angso Duo sejak awal memperlihatkan keinginan untuk mempertahankan identitas pasar rakyat sambil mengadopsi fasilitas modern. Tantangan utamanya adalah bagaimana tetap modern tanpa kehilangan jiwa, tertata tetapi tetap hidup, dan nyaman tanpa berubah menjadi pusat perbelanjaan biasa.
Di antara suara pedagang, aroma rempah, keranjang sayuran, dan arus pembeli, Angso Duo memperlihatkan Jambi dalam bentuk yang paling sehari-hari. Pasar tradisional terbesar di Jambi ini bukan hanya tempat berbelanja, melainkan ruang di mana ekonomi, budaya, dan kehidupan masyarakat bertemu—ramai, sederhana, dan terus bergerak mengikuti zaman.