JAMBI — Pelemahan ini menjadi sinyal bagi investor dan pelaku bisnis bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut. Level Rp17.988 merupakan titik terendah dalam sepekan terakhir, mendekati psikologis angka Rp18.000 yang diwaspadai pasar.
Tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari penguatan indeks dolar AS di pasar global. Data ekonomi Amerika Serikat yang masih solid, terutama dari sektor ketenagakerjaan, membuat ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga The Fed semakin mundur. Imbal hasil obligasi AS yang tetap tinggi pun membuat investor asing cenderung memarkir dananya di aset dolar.
Di sisi domestik, pelaku pasar masih mencermati data neraca perdagangan Indonesia. Jika surplus terus menyempit akibat impor yang tinggi, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut. Bank Indonesia sendiri terus melakukan intervensi ganda di pasar spot dan DNDF untuk menjaga stabilitas.
Bagi investor di pasar saham, pelemahan rupiah biasanya menjadi sentimen negatif, terutama bagi emiten yang memiliki utang dolar atau mengimpor bahan baku. Sektor perbankan dan konsumer yang sensitif terhadap nilai tukar berpotensi tertekan.
Sementara itu, importir akan merasakan dampak langsung berupa kenaikan biaya pengadaan barang. Harga barang impor, mulai dari elektronik hingga bahan baku industri, berpotensi naik dalam waktu dekat. Sebaliknya, eksportir komoditas seperti batu bara dan kelapa sawit justru diuntungkan karena pendapatan dalam dolar AS menjadi lebih besar saat dikonversi ke rupiah.
Analis memperkirakan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dalam jangka pendek. Pasar menunggu data inflasi AS (PCE) pekan depan yang bisa menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga global. Jika data menunjukkan inflasi masih tinggi, tekanan terhadap rupiah bisa semakin kuat.
Di sisi lain, Bank Indonesia diperkirakan akan terus mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen untuk menahan arus modal keluar. Intervensi harian BI menjadi kunci untuk menjaga agar rupiah tidak menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pelaku pasar disarankan untuk mencermati pergerakan dolar secara real-time dan melakukan lindung nilai (hedging) untuk mengantisipasi volatilitas.