Transisi Energi Buka 16,6 Juta Lapangan Kerja Hijau, PLN EMI Dorong Sertifikasi Auditor Energi

Penulis: Zulkarnain Hamid  •  Rabu, 24 Juni 2026 | 16:30:43 WIB
Henri Firdaus dari PT PLN EMI memaparkan peluang 16,6 juta lapangan kerja hijau melalui transisi energi di Indonesia.

JAMBI — Jakarta, 23 Juni 2026 — Langkah Indonesia menuju ekonomi rendah karbon mulai membuahkan peluang kerja nyata. Henri Firdaus, Direktur Utama PT PLN Energy Management Indonesia (EMI), mengungkapkan bahwa transisi energi bukan sekadar agenda lingkungan, melainkan mesin pencipta lapangan kerja masa depan.

"Transisi energi bukan hanya tentang mengurangi emisi, tetapi juga membuka peluang karier baru bagi generasi muda yang memiliki kompetensi di bidang energi, keberlanjutan, dan teknologi," ujar Henri dalam acara Expert Talk ITPLN bertema "Dekarbonisasi dan Manajemen Energi Berkelanjutan untuk Generasi Masa Depan", Selasa (23/6).

Empat Pilar Dekarbonisasi yang Ciptakan Lapangan Kerja Baru

Henri memaparkan empat pilar utama dekarbonisasi yang menjadi fondasi pertumbuhan green jobs. Pertama, efisiensi energi melalui audit dan penerapan ISO 50001 yang mampu menghemat konsumsi energi 15–25 persen. Kedua, pemanfaatan energi terbarukan seperti PLTS atap, angin, dan panas bumi. Hingga 2024, PLN telah mengoperasikan sekitar 4,3 gigawatt energi baru terbarukan dengan bauran listrik EBT mencapai 50 persen.

Pilar ketiga adalah elektrifikasi, termasuk peralihan ke kendaraan listrik. Pada 2025, konsumsi listrik ekosistem kendaraan listrik PLN mencapai 48,57 gigawatt hour, sementara jumlah kendaraan listrik di Indonesia ditargetkan melampaui 133 ribu unit pada 2024. Keempat, pengembangan pasar karbon melalui perdagangan kredit karbon dan Renewable Energy Certificate (REC).

Saat ini, PT PLN EMI mengelola layanan REC untuk ratusan perusahaan dengan harga berkisar Rp 35.000 hingga Rp 61.250 per megawatt hour. Perusahaan juga mengelola Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) dari lebih delapan proyek pembangkit yang terdaftar di Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim.

PLN Group Turunkan 51,1 Juta Ton CO2, Efisiensi Biaya Rp 400 Juta per Perusahaan

Dari sisi implementasi, PLN Group mencatat akumulasi penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 51,1 juta ton CO2 pada 2025, melonjak drastis dari 12,9 juta ton pada 2021. Capaian ini didukung program cofiring biomassa di 52 PLTU dan kapasitas PLTS Atap terpasang sekitar 801 megawatt peak.

"Secara total PLN telah berkontribusi menurunkan sekitar 127 juta ton CO2 dari target Nationally Determined Contribution (NDC) sektor energi sebesar 358 juta ton CO2," kata Henri.

Penerapan manajemen energi berbasis ISO 50001 dengan pendekatan Plan-Do-Check-Act terbukti menghasilkan penghematan energi 15–25 persen di sektor industri. Selain menurunkan emisi, pendekatan ini berpotensi memberikan efisiensi biaya antara Rp 20 juta hingga Rp 400 juta per perusahaan dengan periode pengembalian investasi yang relatif singkat.

Profesi Masa Depan: dari Energy Auditor hingga Green Data Center Engineer

Henri yang juga alumni ITPLN itu mendorong mahasiswa untuk mempersiapkan diri sejak sekarang. Profesi yang bakal dibutuhkan antara lain Energy Auditor, Carbon Analyst dan ESG Specialist, Renewable Energy Engineer, REC dan Carbon Market Trader, Sustainability Consultant, hingga Green Data Center Engineer.

"Mulailah dengan sertifikasi auditor energi, pelajari standar global seperti GHG Protocol, ISO 50001, serta GRI Standards, dan ikuti program magang bersama PLN Group dan PT PLN EMI," imbaunya.

Sebagai perusahaan solusi keberlanjutan yang telah beroperasi lebih dari 35 tahun, PT PLN EMI terus memperkuat perannya sebagai katalis dekarbonisasi nasional melalui layanan manajemen energi, pengelolaan lingkungan, perdagangan atribut hijau, dan konsultasi keberlanjutan. Peluang 16,6 juta green jobs ada di depan mata — tinggal bagaimana generasi muda menyambutnya.

Reporter: Zulkarnain Hamid
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top