JAMBI — Kepala Cabang BYD Haka Kendari, Gunawan Sofian, langsung memimpin rombongan dalam kunjungan ke Graha Pena Kendari Pos. Pertemuan itu menjadi ajang pertama kalinya BYD M6 DM diperkenalkan secara resmi ke publik Sulawesi Tenggara. Gunawan menyebut teknologi Dual Mode pada MPV ini berbeda dari sistem hibrida konvensional.
Pada sistem Dual Mode, motor listrik menjadi sumber tenaga utama untuk memutar roda. Mesin bensin 1.5 liter hanya bekerja sebagai generator pengisi baterai saat daya mulai menipis. Konsep ini membuat efisiensi bahan bakar lebih optimal dibanding hibrida biasa yang kedua sumber tenaganya bisa bergantian menggerakkan roda.
“Dengan baterai penuh dan tangki 52 liter terisi penuh, mobil ini bisa melaju sejauh 1.000 hingga 1.300 kilometer. Solusi tepat di tengah harga BBM yang makin berfluktuasi,” ujar Gunawan dalam sesi diskusi.
Gunawan juga membeberkan perhitungan biaya penggunaan harian. Menurutnya, pemilik kendaraan listrik sejenis hanya perlu mengeluarkan Rp300.000 hingga Rp500.000 per bulan untuk kebutuhan pengisian daya. Angka itu jauh lebih rendah dibanding biaya bensin bulanan untuk MPV konvensional di kelas yang sama.
BYD M6 DM diposisikan sebagai pesaing langsung Toyota Veloz dan Innova di segmen MPV keluarga. Namun, keunggulan utama yang ditawarkan adalah biaya operasional yang lebih ringan dan jarak tempuh total yang sangat panjang.
BYD Haka Kendari mengklaim gerainya sudah memiliki layanan 3S (penjualan, perawatan, suku cadang) sejak November 2025. Meski baru beroperasi kurang dari setahun, Gunawan optimistis pasar kendaraan listrik di Indonesia Timur akan tumbuh cepat.
“Kami berharap Kendari Pos turut menyebarkan informasi agar masyarakat Sulawesi Tenggara makin terbuka pada teknologi baru ini,” tambahnya.
Dalam waktu dekat, tim BYD berencana menggelar uji jalan jarak jauh sejauh 150 kilometer dari Kendari menuju Kolaka. Rute itu akan diikuti oleh wartawan dan pegiat media sosial setempat untuk membuktikan langsung ketangguhan M6 DM di medan jalan raya Sulawesi.
Gunawan juga menjelaskan bahwa BYD bukan merek baru di industri teknologi. Perusahaan asal China ini sudah berdiri sejak 1995 dan sempat memproduksi baterai ponsel untuk Nokia. Baru pada tahun 2000 BYD masuk ke industri otomotif, berekspansi ke Eropa lebih dulu, lalu masuk ke Asia termasuk Indonesia pada 2024.
Secara global, BYD mencatatkan penjualan sekitar 4,7 juta unit kendaraan, melampaui Tesla yang tercatat sekitar 1,4 juta unit. Di Indonesia, distribusi dilakukan melalui empat mitra utama, dan BYD Haka menjadi pelopor pengembangan pasar kendaraan listrik di kawasan Indonesia Timur.