Menag Nasaruddin Umar Serukan Transformasi Sosial di Tahun Baru Islam, Bukan Sekadar Ritual

Penulis: Syamsudin Rasyid  •  Selasa, 16 Juni 2026 | 17:29:31 WIB
Menag Nasaruddin Umar mengajak masyarakat menyikapi hijrah sebagai transformasi sosial, bukan sekadar ritual.

JAMBI — Malam pergantian tahun di Masjid Istiqlal Jakarta tidak diisi dengan doa-doa panjang semata. Menteri Agama Nasaruddin Umar justru menyampaikan pidato yang menggeser narasi hijrah dari sekadar peristiwa sejarah menjadi kerangka transformasi sosial.

Empat Unsur yang Membentuk Komunitas Ideal

Nasaruddin menguraikan secara sistematis perbedaan antara kabilah, sya'abun, qawmun, hizbun, dan umat. Menurut dia, umat adalah tingkatan komunitas tertinggi yang tidak bisa terbentuk tanpa empat pilar sekaligus.

"Kabilah dibangun atas dasar hubungan darah, sya'abun berlandaskan ikatan keluarga besar, qawmun terbentuk melalui kesepakatan sosial dan organisasi, sedangkan hizbun merujuk pada kelompok atau partai politik," katanya.

Empat unsur yang dimaksud adalah kasih sayang, visi ke depan, kepemimpinan yang berwibawa, serta masyarakat yang santun dan taat dalam satu sistem kepemimpinan yang disebut imamah. "Kalau keempat unsur itu ada dalam satu komunitas, barulah layak disebut umat," tegas Menag.

Hijrah Bukan Perpindahan Fisik, tapi Pergeseran Mentalitas

Dalam forum yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Ditjen Bimas Islam) itu, Nasaruddin menekankan bahwa peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah kerap direduksi menjadi seremoni tahunan. Padahal, inti dari hijrah adalah perubahan cara pandang.

"Hijrah bukan hanya perpindahan fisik Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah transformasi sistem kemasyarakatan, dari masyarakat kabilah yang sempit dan primordial menuju masyarakat umat yang global, kosmopolitan, serta diikat oleh kasih sayang dan visi bersama," ujarnya.

Menurut dia, sebelum Islam hadir, masyarakat Arab didominasi oleh sistem kabilah yang bertumpu pada hubungan darah dan kesukuan. Kehadiran Rasulullah kemudian memperkenalkan konsep umat yang melampaui batas-batas suku, ras, dan golongan.

Konteks Kebangsaan di Tengah Tahun Politik

Pernyataan Menag ini disampaikan di tengah tahun politik yang rawan menguatkan sentimen primodial. Ia secara implisit mengingatkan bahwa identitas kesukuan dan golongan sempit tidak boleh mengalahkan visi kebangsaan yang inklusif.

Acara bertajuk Peaceful Muharam ini merupakan rangkaian peringatan tahun baru Islam yang sengaja dirancang untuk mengedepankan pesan perdamaian dan persatuan. Kemenag tidak hanya mengundang tokoh lintas ormas Islam, tetapi juga perwakilan komunitas agama lain.

Seruan transformasi diri dan sosial ini diharapkan tidak berhenti pada pidato. Nasaruddin meminta seluruh jajaran Kemenag untuk menerjemahkan konsep umat dalam program kerja nyata, terutama dalam pelayanan publik yang adil dan non-diskriminatif.

Reporter: Syamsudin Rasyid
Sumber: nasional.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top