TANJUNG JABUNG BARAT — Kemampuan membaca gejala serangan sejak awal menjadi bekal utama bagi pekebun kelapa sawit agar tidak terlambat mengambil tindakan. Pelatihan Budi Daya Kelapa Sawit yang digelar 7–12 Oktober 2026 di Kabupaten Tanjung Jabung Barat menghadirkan materi pengenalan hama dan penyakit di setiap fase pertumbuhan tanaman.
Peserta mempelajari cara mengamati tanaman dari pembibitan, tanaman belum menghasilkan (TBM), sampai tanaman menghasilkan (TM). Pendekatan ini dipilih karena gangguan yang dibiarkan berkembang bisa menghambat pertumbuhan sekaligus menekan produktivitas kebun.
Ganoderma dan Sensus OPT Jadi Materi Inti
Penyakit Ganoderma menjadi salah satu bahasan utama dalam pelatihan. Pekebun dilatih mengenali gejala awal dan memantau kondisi tanaman agar langkah penanganan bisa disesuaikan dengan situasi di lapangan.
Materi lain menyangkut sensus organisme pengganggu tanaman (OPT), yang berfungsi memetakan keberadaan hama sekaligus mengukur tingkat serangan. Dari data sensus itu, pekebun bisa menentukan prioritas penanganan.
Lead Trainer IPB Training, Prof. Dr. Ir. Hariyadi, M.S., menekankan pengamatan rutin sebagai fondasi pengendalian.
"Deteksi dini menjadi langkah penting dalam pengendalian hama dan penyakit kelapa sawit. Pekebun perlu mengenali gejala sejak awal, melakukan pengamatan secara rutin, dan menentukan tindakan berdasarkan kondisi tanaman agar gangguan tidak berkembang lebih luas," ujar Prof. Hariyadi dalam keterangan resminya.
Pengendalian Tidak Cukup Andalkan Pestisida
Peserta diperkenalkan pada konsep pengendalian hama terpadu. Pemantauan rutin, pemanfaatan agens hayati, pengenalan musuh alami, dan pengelolaan tanaman bermanfaat menjadi bagian dari pendekatan tersebut.
Prinsipnya, pengendalian disesuaikan dengan jenis gangguan dan tingkat serangan. Pestisida bukan satu-satunya jalan keluar yang bisa diandalkan.
Meski begitu, materi penggunaan pestisida tetap diberikan, meliputi formulasi, metode aplikasi, keselamatan kerja, dan kalibrasi alat semprot. Ketepatan dosis dan cara pakai berpengaruh pada efektivitas pengendalian sekaligus keselamatan pekerja dan lingkungan kebun.
Pengendalian OPT juga diarahkan terintegrasi dengan pemupukan, pengelolaan gulma, dan pemeliharaan tanaman. Dengan pengelolaan terencana, pekebun dapat memantau kondisi kebun lebih baik dan menentukan prioritas penanganan.
Menjaga Produktivitas Lewat Pengamatan Konsisten
Kegiatan ini merupakan kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan, dan IPB Training. Pembukaan pelatihan turut dihadiri Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, Henrizal, S.Pt., M.M., serta perwakilan pemerintah daerah yang menangani urusan perkebunan.
Deteksi dini dinilai krusial karena penanganan tidak seharusnya menunggu tanaman rusak serius. Pengamatan yang konsisten dan pengendalian sesuai kondisi lapangan diharapkan membuat pekebun mengelola risiko serangan hama dan penyakit secara lebih terarah.
Pada akhirnya, upaya ini bukan sekadar menjaga kesehatan tanaman. Keberlanjutan usaha perkebunan kelapa sawit pekebun turut bergantung pada kemampuan mereka merespons gangguan sejak gejala pertama muncul.