JAMBI — Burgo sudah lama menjadi pilihan sarapan masyarakat Melayu di Jambi. Bentuknya sekilas mirip dadar gulung, tetapi rasanya jauh berbeda karena disajikan bersama kuah berbumbu, bukan isian manis.
Kuliner tradisional ini tidak selalu berbentuk nasi atau mi. Burgo dibuat dari tepung beras yang diolah menjadi lembaran tipis, lalu digulung dan disiram kuah santan.
Bukan Makanan Manis, Kuahnya Berbahan Ikan atau Udang
Warna putih pada lembaran burgo sering membuat orang mengira hidangan ini berasa manis. Anggapan itu keliru. Kuah burgo menggunakan ikan atau udang sebagai bahan utama, dipadukan dengan santan dan bumbu.
Perpaduan adonan lembut dan kuah santan berbumbu membuat burgo paling nikmat disantap selagi hangat. Taburan bawang goreng dan sambal bisa ditambahkan untuk memperkaya rasa.
Bahan yang Perlu Disiapkan
Burgo tidak harus dibeli di luar rumah. Hidangan ini bisa dibuat sendiri dengan bahan-bahan yang relatif mudah ditemukan di pasar.
Untuk membuat burgo, siapkan bahan berikut:
- 200 gram tepung beras
- 50 gram tepung tapioka
- 600–700 ml air, sesuaikan dengan kekentalan adonan
- ½ sendok teh garam
- Minyak goreng secukupnya untuk mengolesi loyang atau wadah kukusan
Tantangan Utama: Lembaran Tipis yang Tidak Mudah Robek
Tahap paling menantang dalam membuat burgo adalah menghasilkan lembaran adonan yang tipis. Lembaran itu juga harus cukup kuat agar tidak robek saat digulung.
Kekentalan adonan menjadi kunci. Jika terlalu kental, lembaran sulit dibentuk tipis. Jika terlalu encer, adonan rentan sobek ketika diangkat dari loyang.
Pengolesan minyak pada loyang atau wadah kukusan juga perlu diperhatikan agar adonan tidak lengket. Setelah matang, lembaran burgo digulung rapi sebelum disiram kuah santan ikan.