JAMBI — Kabut asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Jambi menurunkan jarak pandang di Bandara Sultan Thaha hingga ke level kritis. Pemantauan petugas pada pukul 06.00 WIB mencatat jarak pandang hanya sekitar 800 meter, lalu naik menjadi 1.000 meter pada pukul 07.00 WIB dan 1.500 meter pada pukul 08.00 WIB.
Angka tersebut berada di sekitar batas minimum operasional bandara, sehingga otoritas bandara memilih menahan keberangkatan dua pesawat dari Jakarta ketimbang memaksakan pendaratan.
Dua Pesawat yang Tertunda Keberangkatannya
Maskapai pertama yang terdampak adalah Citilink Indonesia dengan nomor penerbangan QG 960 rute Jakarta–Jambi. Jadwal semula berangkat pukul 10.25 WIB dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Penerbangan kedua adalah Garuda Indonesia dengan nomor GA 126 pada rute yang sama. Pesawat ini dijadwalkan lepas landas pukul 10.35 WIB.
Keduanya tertunda karena kondisi di bandara tujuan belum memenuhi syarat keselamatan penerbangan.
Take Off Bisa, Mendarat yang Bermasalah
Ardon menjelaskan bahwa persoalan utama bukan pada proses lepas landas, melainkan saat pesawat harus turun dan mendarat di landasan.
"Untuk take off masih bisa, mendarat yang bermasalah," ujar Ardon dikutip dari Tribun Jambi, Rabu (30/9/2026).
Pernyataan itu menjelaskan mengapa penundaan justru terjadi pada penerbangan menuju Jambi, bukan pada pesawat yang berangkat dari Jambi.
Jarak Pandang Sempat 1.200 Meter
Selain catatan pagi hari, jarak pandang di Bandara Sultan Thaha juga sempat menurun hingga sekitar 1.200 meter. Kondisi itu disebut berada pada level minimum yang membuat pendaratan berisiko.
Fluktuasi jarak pandang dalam hitungan jam menunjukkan kabut asap bergerak dinamis mengikuti arah angin dan intensitas titik api di sekitar wilayah Jambi.
Pihak bandara menyatakan terus memantau perkembangan jarak pandang dan kondisi cuaca sebelum menentukan pelayanan penerbangan berikutnya.
Dampak Karhutla pada Transportasi Udara
Penundaan dua penerbangan ini menambah daftar dampak karhutla yang tidak lagi sebatas persoalan lingkungan. Mobilitas warga, jadwal perjalanan dinas, hingga rantai logistik udara ikut terganggu.
Calon penumpang yang sudah membeli tiket untuk jadwal pagi hingga siang berpotensi mengalami pergeseran waktu keberangkatan. Pihak maskapai dan bandara belum merinci skema kompensasi atau penjadwalan ulang bagi penumpang terdampak.
Karhutla di Jambi pada musim kemarau menjadi persoalan berulang yang berdampak langsung pada sektor penerbangan. Bandara Sultan Thaha menjadi titik paling terasa karena posisinya berada di area yang kerap terpapar kiriman asap dari titik api di sekitar kota.