JAMBI — Operation Bluebird, startup di balik platform media sosial Twitter.now, harus menelan pil pahit. Hakim Colm F. Connolly memutuskan mereka tidak boleh menggunakan nama "Twitter" untuk layanannya. Perusahaan pun langsung merombak identitas produknya menjadi Tweet.app. Putusan ini keluar setelah Operation Bluebird sebelumnya mencoba merebut merek dagang Twitter dari X Corp. lewat jalur hukum.
Keputusan Pengadilan dan Alasan di Baliknya
Hakim Connolly beralasan X Corp. masih memegang nama domain Twitter.com. Platform yang kini bernama X itu juga masih kerap disebut sebagai Twitter oleh banyak pengguna. Kondisi ini dinilai bisa menimbulkan kebingungan di pasar jika ada platform lain yang turut memakai nama serupa.
Kendati demikian, keputusan ini belum final. Dalam opininya, Connolly menulis bahwa Operation Bluebird kemungkinan besar akan berhasil membuktikan X Corp. telah menghentikan penggunaan merek dagang "Tweet" dan logo burung biru, serta tidak berniat melanjutkan pemakaiannya. Kasus ini akan berlanjut untuk menentukan apakah X Corp. masih mempertahankan merek dagang Twitter, seperti dikutip dari TechCrunch, Selasa (8/9/2026).
Strategi Operation Bluebird dan Perang Merek Dagang
Langkah Operation Bluebird merupakan buntut dari keputusan Elon Musk yang mengubah nama Twitter menjadi X pada 2023. Startup tersebut melihat celah hukum dengan mencoba merebut merek dagang yang ditinggalkan. Mereka sempat meluncurkan situs Twitter.now sambil menunggu putusan hakim—sebuah taktik yang akhirnya hanya berumur pendek.
Meski kalah di babak awal, Operation Bluebird masih punya ruang untuk membuktikan bahwa istilah "tweet" dan logo burung biru sudah sah digunakan publik. Keputusan hakim justru menguatkan posisi mereka di titik ini—hanya nama "Twitter" yang belum boleh dipakai.
Fitur dan Model Pendaftaran Tweet.app
Situs Tweet.app sudah aktif dan kini menerima pendaftaran daftar tunggu untuk platform media sosialnya. Hingga saat ini, tercatat 172.000 orang telah mendaftar dan melakukan reservasi username dengan biaya USD 20 (setara Rp 330 ribu).
Operation Bluebird juga menyediakan tier "Fighter" seharga USD 40 (sekitar Rp 660 ribu) bagi pendaftar yang menginginkan status layaknya pendiri platform. Keuntungannya meliputi nomor urut pendaftar, lencana khusus, serta lencana ketapel eksklusif.
Apa Selanjutnya untuk Tweet.app?
Dengan nama baru yang lebih netral, Tweet.app kini bisa fokus membangun produk tanpa bayang-bayang gugatan. Pertanyaan besarnya adalah bagaimana X Corp. akan merespons langkah hukum selanjutnya. Dan apakah pengadilan pada akhirnya akan sepenuhnya melepas merek "Tweet" dan logo burung biru untuk publik.
Bagi pengamat industri, kasus ini menjadi preseden menarik tentang nilai merek dagang di era pergantian identitas perusahaan teknologi besar. Jika Operation Bluebird menang di tahap akhir, bukan tidak mungkin akan muncul lebih banyak platform yang mencoba memanfaatkan merek-merek lama yang ditinggalkan korporasi raksasa.