SUNGAI PENUH — Metode ini merupakan karya Achmad Farid Hasan. Hesti Haris, sapaan akrab Hesnidar Haris, menilai metode tersebut praktis dan efisien. Ia menyebut pendekatan ini memangkas waktu belajar, sehingga siswa lebih cepat fasih membaca Al-Qur’an.
Pembekalan untuk Guru sebagai Motor Penggerak
Pelatihan tidak menyasar siswa secara langsung. Para guru agama dibekali metode ini untuk diajarkan kembali di sekolah masing-masing. Hesti berharap guru mampu menyampaikan materi dengan cara yang menyenangkan.
“Kami ingin memastikan setiap anak mendapatkan akses belajar yang efektif. Guru agama kami bekali dengan metode ini agar mereka bisa mengajarkannya kembali dengan cara yang menyenangkan di sekolah masing-masing,” ujar Hesti dalam arahannya.
Motivasi Jadi Pondasi Utama Pembelajaran
Hesti menekankan bahwa metode yang tepat harus dibarengi motivasi kuat dari pendidik. Ia meminta guru tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membangun antusiasme siswa sebelum memulai pembelajaran.
“Metode yang tepat membuat materi jauh lebih mudah diingat. Namun, motivasi adalah pondasinya. Jika siswa sudah memiliki semangat, hambatan teknis saat belajar akan jauh lebih mudah dilewati,” jelasnya.
Kolaborasi Pemerintah dan Pendidik untuk Pemerataan
Program ini digarap bersama Biro Kesra Provinsi Jambi. Hesti menginginkan pemerataan kemampuan membaca Al-Qur’an di seluruh kabupaten dan kota di Jambi. Ia menilai kemampuan ini merupakan fondasi karakter generasi muda.
“Al-Qur’an adalah pedoman umat Islam. Memberikan kemudahan bagi generasi muda untuk mempelajarinya adalah tanggung jawab kita bersama dalam membangun Jambi yang lebih agamis,” tutupnya.