Ekonomi RI Tumbuh 5,47% di Kuartal III-2026, Industri Pengolahan Sumbang 1,20%

Penulis: Ahmad Syukri  •  Kamis, 05 November 2026 | 11:51:31 WIB
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Edy Mahmud menyampaikan capaian pertumbuhan ekonomi 5,47% pada kuartal III-2026 dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/11/2026).

JAMBI — Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% pada kuartal III-2026, dengan industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar sebesar 1,20%. Seluruh lapangan usaha membukukan pertumbuhan positif dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ditopang konsumsi rumah tangga yang menguasai 51,97% PDB. Sektor akomodasi dan makan minum justru mencatat laju tertinggi, yakni 11,22%.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Edy Mahmud menyampaikan capaian itu dalam konferensi pers di kantor pusat BPS, Kamis (5/11/2026). Lima lapangan usaha terbesar — industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan — bersama-sama menyumbang sekitar 65,31% dari PDB nasional.

"Jika dilihat dari sumber pertumbuhan, pada triwulan III-2026 industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar yaitu 1,20%. Jadi 5,47%, 1,20% dari industri pengolahan," kata Edy.

Perdagangan dan Konstruksi Menyusul di Bawah Industri Pengolahan

Setelah industri pengolahan, perdagangan menyumbang 0,94% pertumbuhan, konstruksi 0,62%, serta informasi dan komunikasi 0,49%. Jasa keuangan tumbuh 8,47% dan jasa lainnya 8,32%.

Yang menonjol, penyediaan akomodasi dan makan minum memimpin dari sisi laju pertumbuhan. Okupansi kamar hotel yang naik dan belanja masyarakat di restoran menjadi pemicunya.

"Lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi adalah penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 11,22% didorong oleh peningkatan hunian kamar hotel dan konsumsi masyarakat di rumah makan dan restoran," jelas Edy.

Biodiesel B50 dan Ekspor Logam Jadi Penopang Manufaktur

Industri makanan dan minuman tumbuh 7,09%, ditopang ekspor CPKO dan produk turunan CPO serta pemanfaatan CPO domestik untuk biodiesel. Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional naik 8,10% seiring produksi FAME setelah mandatori biodiesel B50 berlaku sejak 1 Juli 2026, plus kenaikan produksi pupuk.

Industri logam dasar mencatat pertumbuhan 9,94%, sejalan dengan meningkatnya ekspor katoda tembaga, nickel matte, dan aluminium. Sektor konstruksi ikut terdorong proyek infrastruktur pemerintah dan swasta, termasuk KDKMP, perumahan rakyat, Sekolah Rakyat, dan revitalisasi sekolah.

Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi Kuasai 82,78% PDB

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menyumbang 51,97% PDB dengan pertumbuhan 5,04%. Investasi atau PMTB berkontribusi 30,81% dan tumbuh 6,06%. Keduanya mencakup 82,78% dari total PDB nasional.

  • Konsumsi rumah tangga: kontribusi pertumbuhan 2,62%, ditopang konsumsi restoran dan hotel yang naik 6,59% serta transportasi dan komunikasi 5,83%
  • PMTB: kontribusi 1,91%, dengan subkomponen kendaraan melonjak 12,96%; realisasi investasi BKPM tumbuh 7,59%
  • Konsumsi pemerintah: kontribusi 0,62%, tetapi tumbuh paling tinggi 8,95% berkat belanja pegawai dan belanja barang-jasa

Belanja MBG Angkat Konsumsi Pemerintah

Kenaikan konsumsi pemerintah didorong realisasi belanja pegawai, terutama gaji dan tunjangan ASN, serta belanja barang dan jasa. Program makan bergizi gratis disebut sebagai salah satu pos belanja barang yang diserahkan ke masyarakat.

"Peningkatan realisasi belanja barang dan jasa terutama pada belanja barang yang diserahkan kepada masyarakat di antaranya program makan bergizi gratis atau MBG," tutup Edy.

Bagi pelaku pasar, komposisi ini menegaskan bahwa mesin pertumbuhan masih bertumpu pada belanja rumah tangga dan investasi swasta. Ketergantungan pada konsumsi membuat daya beli menjadi variabel yang perlu dicermati pada kuartal berikutnya, sementara kinerja manufaktur dan ekspor logam memberi ruang bagi sektor industri dasar dan hilirisasi.

Reporter: Ahmad Syukri
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top