JAMBI — Meski namanya melekat sebagai oleh-oleh khas Semarang, wingko babat sebenarnya berasal dari Babat, sebuah kecamatan di Jawa Timur. Perpaduan rasa manis, gurih kelapa parut, dan tekstur kenyal membuat kue beraroma khas ini tetap dicari, baik sebagai teman minum teh maupun buah tangan saat bepergian.
Kunci kelezatannya bukan pada peralatan mahal, melainkan pada pemilihan bahan dan cara memanggang. Dua hal itulah yang paling menentukan hasil akhir wingko babat buatan rumah.
Bahan pertama yang perlu diperhatikan adalah kelapa parut. Gunakan kelapa yang tidak terlalu tua agar teksturnya tetap lembut dan kadar minyaknya pas. Kelapa yang terlalu tua cenderung membuat wingko berminyak dan keras setelah dingin.
Kulit aris kelapa sebaiknya dikupas bersih sebelum diparut. Bagian ini kerap tertinggal dan memberi rasa getir halus yang mengganggu rasa manis legit kudapan.
Pemanggangan menggunakan wajan datar atau teflon berapi kecil menghasilkan lapisan luar bernuansa cokelat keemasan. Proses ini memunculkan aroma karamel alami yang menggugah selera, tanpa perlu oven.
Api kecil penting agar bagian dalam wingko matang merata sebelum permukaannya gosong. Bila api terlalu besar, lapisan luar cepat menghitam sementara adonan di tengah masih mentah.
Empat bahan itu cukup untuk menghasilkan satu adonan rumahan. Santan hangat membantu gula larut lebih merata sehingga adonan tidak menggumpal saat dicampur.
Wingko babat kini bisa dibuat siapa saja di dapur sendiri, termasuk warga Jambi yang jauh dari Semarang. Kudapan tradisional nusantara ini tetap punya tempat di meja rumah tangga karena bahannya mudah ditemukan di pasar lokal.
Hasil buatan sendiri juga memungkinkan penyesuaian rasa, mulai dari tingkat kemanisan hingga ketebalan adonan sesuai selera keluarga.