JAMBI — Tape singkong tetap punya tempat tersendiri di meja camilan masyarakat Indonesia, termasuk di Jambi. Di balik kesederhanaan bahan utamanya, proses fermentasi olahan umbi ini memerlukan kecermatan serta kebersihan yang terjaga agar hasilnya legit dan bebas kontaminasi.
Kemudahan bahan serta langkah pembuatan yang praktis menjadikan resep ini pilihan untuk mengisi waktu luang di akhir pekan. Hasilnya bisa dinikmati bersama segelas teh hangat manis sebagai pelengkap momen kebersamaan keluarga.
Membuat tape singkong di rumah tidak serumit yang dibayangkan. Hanya dengan dua bahan utama, siapa pun bisa menyajikan sajian fermentasi berkualitas yang tak kalah lezat dari buatan produsen olahan tradisional.
Jenis singkong menentukan tekstur akhir tape. Singkong mentega atau kuning disebut lebih cocok karena kadar manisnya lebih tinggi dan dagingnya lebih empuk setelah difermentasi.
Sebelum diolah, singkong perlu dikupas bersih dan dipotong sesuai selera. Bagian yang keras atau berserat sebaiknya dibuang agar hasil fermentasi merata di seluruh bagian.
Ragi tape bekerja lewat proses fermentasi yang rentan terganggu jika alat atau wadah tidak steril. Peralatan yang berminyak atau kotor bisa membuat tape berjamur dan gagal.
Ragi dihaluskan hingga menjadi bubuk lembut sebelum dicampurkan ke singkong. Perhatikan takaran 1–2 butir untuk 1 kg singkong agar rasa manis dan sedikit asamnya seimbang.
Tape singkong yang berhasil punya cita rasa manis, sedikit asam, dan tekstur empuk yang khas. Kombinasi inilah yang membuat kudapan tradisional ini selalu berhasil memikat lidah.
Di tengah gempuran aneka camilan modern, eksistensi olahan tradisional seperti tape singkong tetap bertahan. Bahan yang murah dan langkah pembuatan yang praktis jadi alasan utama.