JAMBI — PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) membukukan laba bersih Rp496,8 miliar pada semester I-2026, tumbuh 118% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan itu ditopang ekspansi bisnis telekomunikasi yang kini menjadi kontributor utama pendapatan perseroan. Analis menilai valuasi saham WIFI masih menarik meski risiko kecepatan pembangunan jaringan perlu dicermati.
Riset UOB Kay Hian menyebut WIFI memiliki fundamental bisnis yang solid. Penilaian itu tertuang dalam riset yang disusun analis Willinoy Sitorus dan Andrew Agita Buntoro pada 8 Oktober 2026. Keduanya menyoroti kombinasi lini usaha penyedia layanan internet dengan platform infrastruktur serat optik yang dijalankan perseroan.
Perubahan lanskap bisnis WIFI terlihat dari kontribusi segmen telekomunikasi yang kini mendominasi pendapatan. Ekspansi jaringan internet berbasis serat optik dan akses nirkabel menjadi penggerak utama di balik lonjakan laba semester I-2026.
Perseroan menjalankan dua anak usaha sebagai tulang punggung lini ini. Telemedia Komunikasi Pratama (TKP) dan Integrasi Jaringan Ekosistem (WEAVE) menjadi kendaraan WIFI menggarap pasar konektivitas.
TKP menjadi entitas yang paling strategis. WIFI menguasai 99,9% saham TKP, yang mengoperasikan bisnis fixed wireless access (FWA) berbasis jaringan 5G.
Model FWA memungkinkan penyediaan internet cepat tanpa perlu menarik kabel sampai ke rumah pelanggan. Skema ini kerap dipakai operator untuk menjangkau wilayah yang belum tercover jaringan serat optik.
Sementara WEAVE menangani sisi infrastruktur serat optik. Kombinasi keduanya memberi WIFI cakupan layanan yang lebih luas, dari koneksi nirkabel hingga backbone transmisi data.
UOB Kay Hian menilai valuasi WIFI berada di level yang menarik bagi investor. Penilaian itu bertumpu pada pertumbuhan laba yang agresif dan posisi perseroan di sektor konektivitas.
Namun riset yang sama mengingatkan satu risiko utama: kecepatan pembangunan jaringan. Perluasan infrastruktur telekomunikasi butuh belanja modal besar dan eksekusi lapangan yang tidak selalu sesuai jadwal.
Keterlambatan pembangunan jaringan bisa menahan laju pertumbuhan pendapatan di periode berikutnya. Faktor ini menjadi variabel yang perlu dipantau investor, terutama jika target penetrasi pelanggan tidak tercapai sesuai rencana.
Lonjakan laba 118% memang menjadi sinyal positif. Tapi keberlanjutannya bergantung pada seberapa cepat WIFI menambah kapasitas jaringan dan mengonversinya menjadi pendapatan berulang.
Bagi investor, dua hal yang layak dipantau adalah realisasi belanja modal dan jumlah pelanggan baru di segmen FWA. Keduanya menentukan apakah tren pertumbuhan semester I-2026 bisa berlanjut hingga akhir tahun.
Perubahan komposisi manajemen, termasuk mundurnya Hashim dari posisi Komisaris Utama, menjadi faktor lain yang perlu dicermati. Pergantian di jajaran pengawas biasanya tidak mengubah operasional harian, tetapi bisa memengaruhi arah strategi jangka panjang perseroan.