JAMBI — Kesulitan menulis pada anak sering dianggap sekadar malas atau kurang latihan, padahal bisa jadi tanda disgrafia. Kenali gejala, penyebab, dan cara mengatasinya sejak dini agar ibu tidak salah langkah.
Disgrafia adalah kondisi neurologis yang membuat anak sulit menuangkan pikiran ke dalam tulisan, sesuai usia dan kemampuan berpikirnya. Kondisi ini berbeda dari sekadar tulisan berantakan karena anak malas berlatih.
Menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke, gangguan belajar ini umumnya mulai terlihat saat anak pertama kali mengenal huruf dan tulisan. Gejalanya bisa muncul berbeda pada tiap anak, termasuk cara menggenggam alat tulis hingga menyusun kata.
Menulis bukan aktivitas sederhana. Otak perlu mengoordinasikan keterampilan motorik halus, persepsi spasial, memori kerja, kemampuan ortografis, pemrosesan bahasa, dan konseptualisasi sekaligus.
Pada anak dengan disgrafia, proses ini terganggu. Mereka bukan tidak tahu cara membaca atau mengeja, tetapi otak kesulitan memproses kata dan tulisan tersebut.
Disgrafia yang muncul saat anak belajar menulis disebut disgrafia perkembangan. Ada pula disgrafia didapat yang muncul setelah cedera atau trauma kepala.
Keduanya kondisi neurologis berbeda, meski gejalanya sering tumpang tindih dan bisa muncul bersamaan. Disleksia berkaitan dengan kesulitan belajar membaca, sedangkan disgrafia berfokus pada aktivitas menulis.
Anak disleksia mungkin membaca lebih lambat atau sulit mengenali kata. Anak disgrafia justru bisa berbicara lancar, tetapi kesulitan saat harus menuliskannya.
Disgrafia bisa dialami anak maupun orang dewasa. Risikonya lebih tinggi bila ada anggota keluarga lain dengan kondisi serupa.
Kondisi ini juga cukup umum ditemukan pada anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD) dan gangguan pemusatan perhatian serta hiperaktivitas (ADHD).
Kesulitan anak disgrafia bisa mencakup pembentukan huruf, ukuran dan jarak antarhuruf, ejaan, koordinasi motorik halus, kecepatan menulis, tata bahasa, hingga kemampuan menyusun tulisan.
Satu tanda saja tidak otomatis berarti anak disgrafia. Namun bila anak kesulitan mempelajari keterampilan dasar menulis yang seharusnya sudah dikuasai sesuai usianya, segera lakukan evaluasi lanjutan.
Jangan tunda pemeriksaan jika kesulitan menulis anak mulai mengganggu prestasi sekolah atau membuatnya frustrasi. Evaluasi biasanya melibatkan observasi keterampilan motorik, kemampuan bahasa, dan riwayat perkembangan anak.
Penanganan dini membantu anak mendapat dukungan tepat, baik melalui terapi okupasi, latihan menulis khusus, maupun penyesuaian di sekolah.
Mengenali disgrafia sejak awal membuat ibu bisa mencari bantuan yang tepat tanpa menyalahkan anak. Dengan dukungan yang sesuai, anak tetap bisa belajar menulis dengan cara yang paling nyaman baginya.