JAMBI — Stefano Sollima kembali menyutradarai musim kedua serial antologi The Monster of Florence untuk Netflix dengan fokus baru pada sosok Pietro Pacciani dan kelompok "Snack Buddies". Musim pertama yang tayang Oktober 2025 sempat menjadi serial paling banyak ditonton secara global di minggu pertamanya. Proses syuting musim kedua berlangsung di lokasi perbukitan pinggiran Roma, merekonstruksi ulang rumah asli Pacciani di Mercatale Val di Pesa.
Untuk adegan persidangan, Sollima memilih lokasi autentik: ruang sidang keamanan maksimum di Florence, tempat persidangan bersejarah Pacciani pada 1994 digelar. Detail ini menunjukkan pendekatan produksi yang menekankan akurasi historis, bukan sekadar dramatisasi.
Musim pertama The Monster of Florence menelusuri apa yang disebut "jejak Sardinia", mencakup dua investigasi besar terhadap semua orang yang pernah dituduh, diadili, dan dipenjara selama puluhan tahun karena dicurigai sebagai si Monster. Musim kedua mengambil sudut pandang berbeda dengan menyorot Pietro Pacciani dan kelompok yang oleh media dijuluki "Snack Buddies".
"Segmen ini merupakan pergeseran yang hampir total, itulah sebabnya saya menyebut The Monster sebagai serial antologi," ujar Sollima kepada Variety di lokasi syuting. "Bagian cerita yang spesifik ini, termasuk para penyidik, protagonis, dan Monster itu sendiri, sepenuhnya berbeda dari musim pertama."
Menurut Sollima, kedua musim bisa dinikmati secara terpisah. Masing-masing merupakan narasi mandiri yang tertanam dalam kerangka besar pengejaran Monster selama kurang lebih 20 tahun.
Pacciani adalah seorang buruh tani yang pada 29 April 1992 rumahnya di Tuscany digeledah penyidik. Mereka menemukan peluru kaliber 22 bertanda huruf "H" terkubur di kebun sayurnya. Temuan itu menjadi titik krusial yang mengarah pada vonisnya atas delapan pembunuhan pasangan yang sedang berkencan di dalam mobil di sekitar Florence, antara akhir 1960-an hingga pertengahan 1980-an.
Dalam persidangan 1994, Pacciani dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena membunuh enam dari delapan pasangan, sekaligus dinyatakan bersalah atas pemerkosaan kedua putrinya. Namun vonis itu kemudian dibatalkan setelah bukti peluru tersebut digugurkan oleh teknologi ilmiah modern. Pacciani meninggal pada 1998 akibat serangan jantung di usia 73 tahun, sebelum persidangan ulang digelar.
Polisi sempat menduga pembunuhan dilakukan oleh kelompok yang dipimpin Pacciani. Dua orang yang diduga sebagai kaki tangannya tetap dihukum karena terbukti terlibat dalam sebagian pembunuhan.
The Monster of Florence mempertemukan kembali Sollima dengan penulis Leonardo Fasoli dan sinematografer Italia Paolo Carnera. Ketiganya pernah bekerja sama dalam serial Gomorrah dan drama perdagangan kokain ZeroZeroZero. Sollima juga dikenal lewat film Hollywood seperti Sicario: Day of the Soldado dan Without Remorse.
Serial ini diproduksi Wildside, perusahaan di bawah Fremantle, bersama rumah produksi AlterEgo milik Sollima. Para produsernya adalah Sonia Rovai, Gina Gardini, Sollima, dan Lorenzo Mieli. Nama aktor yang memerankan Pacciani belum diungkap Netflix.
Musim pertama The Monster of Florence tayang pada Oktober 2025 dan langsung menjadi serial paling banyak ditonton secara global di minggu pertama perilisannya. Capaian itu menjadikan seri ini salah satu judul non-Inggris Netflix yang berhasil menembus pasar internasional.
Musim kedua akan terdiri dari tiga episode dan masih melanjutkan format antologi yang membuat setiap bagian cerita bisa berdiri sendiri. Sollima menyebut struktur naratif musim ini lebih linear dibandingkan musim pertama karena kini hanya ada satu tersangka utama yang menjadi fokus.
Kasus Monster of Florence hingga kini masih diperdebatkan, terutama di kalangan yang meyakini kesalahan Pacciani. Sollima mengakui ini bukan cerita yang mudah untuk difilmkan, namun pendekatan memilih sudut pandang satu Monster tetap dipertahankan sejak musim pertama.